Rabu, Mei 27, 2015

Green Day, oh Green Day


Pada 18 April lalu, Green Day dinobatkan dalam Rock n' Roll hall of Fame. Dua malam sebelum acara tersebut, Green Day sempat menggelar konser nostalgia dengan menggandeng drummer lama mereka, John Kiftmeyer, dan tampil sebagai "Sweet Children" (nama yang mereka gunakan sebelum ganti jadi Green Day). Belum lama ini pula, pada tanggal 17 Mei, Green Day kembali mengadakan konser nostalgia di 924 Gilman Street (club underground yang membesarkan mereka, namun sempat memboikot mereka setelah teken kontrak dengan major label Reprise Records). Konser tersebut dalam rangka penggalangan dana bagi 2 penerbit punk yang tempatnya terbakar beberapa waktu sebelumnya. 


Green Day yang udah berkarir 25 tahun lebih ini tampaknya sedang mengenang masa lalunya, melihat kembali perjalanan karir mereka dari masa susah sampai sekarang sukses. Jadi, cocok kayaknya kalo sekarang gue juga bernostalgia dengan Green Day lewat tulisan ini.

Dookie-mania
Perjumpaan gue pertama kali dengan Green Day lewat album ketiga mereka, Dookie. (Ya iya, karena 2 album sebelumnya diriilis oleh label indie Lookout Records, jadi nggak nyampe ke Indonesia). Semua lagu di album yang mendapat Grammy sebagai album Alternatif terbaik ini begitu catchy, sampe nggak bosen sama lagu "When I Come Around" yang diputer berkali-kali di MTV. "Basket Case" juga lagu yang paling ajib buat moshing, lalu ada "Longview" yang pas buat belajar line bass jazz. Bukan cuma musiknya yang lezat, lirik lagu Billie Joe yang sarkastik juga sangat menarik bagi gue. "Chump" adalah komedi tentang orang yang benci pada orang lain yang belum dikenal, sama kocaknya dengan "Pulling Teeth", tentang seorang cowok yang kerap disiksa secara fisik oleh ceweknya. Ada juga lagu yang lebih personal, yang menemani gue saat "merantau" di Bandung, "Welcome to Paradise". 

Green Day dan Dookie-nya ini pula yang melatih kuping gue mendengar band-band punk lainnya yang lebih "berat". Sebelum tau Green Day, gue udah mendengar Sex Pistols. Tapi entah kenapa, gue susah sekali mencerna musiknya. Baru setelah mendengar Green Day dengan musiknya yang dibilang sebagai versi "ramah" dari punk rock ini, gue langsung mengerti dan bisa menikmati musik Sex Pistols, kemudian the Exploited, Slaughter & the Dogs, dan lain-lain.

Timing yang pas membuat album Dookie meledak. Sebelumnya, Nirvana memberi jalan bagi band-band alternatif (termasuk punk rock), melalui album Nevermind di tahun 1991. Kalo Nirvana menampilkan sisi gelap punk (yang kemudian disebut dengan nama "Grunge"), Green Day menampilkan sisi yang lebih "lucu" dan sedikit naif, I guess

By the way, gue juga ngefans berat sama Nirvana, sehingga saat SMA pernah bikin band bernama Psikopat yang memainkan lagu-lagu Nirvana dan Green Day. Kebetulan di dalam band itu gue dan teman gue bernama Ijul bisa bertukar posisi. Karena vokal gue lebih mirip Billie Joe (serius), kalo bawain lagu Green Day gue yang nyanyi, si Ijul ngedrum. Gantian kalo bawain Nirvana si Ijul yang nyanyi kayak Kurt Cobain, sementara gue ngedrum niruin Dave Grohl. Ahh...good times...

Back to Green Day. Jadi Dookie membuat Green Day jadi pusat perhatian. Mereka pun mempertahankan momentum itu dengan bermain gila-gilaan di Woodstock '94, menciptakan perang lumpur yang heboh itu. Tapi apa mereka bisa terus mempertahankan eksistensi?

Insomniac, album yang dirilis pada tahun 1995 membuktikan kalo Green Day bukanlah band one hit wonder. Ciri ngepop Dookie tetap dipertahankan, dengan sound yang lebih keras. Lagu-lagu hitsnya antara lain "Stuck With Me", "Geek Stink Breath", dan "Walking Contradiction". Lagu "Jaded" sebagai lagu yang paling keras mungkin ingin membuktikan bahwa mereka juga bisa ngepunk seperti The Exploited dan sebagainya. Ya, dengan Insomniac, Green Day seakan mengacungkan jari tengah ke komunitas punk underground yang menuduh sell-out (menjual diri) sambil mengatakan kalau Green Day gak butuh pengakuan mereka atau siapa pun. Nah, punk rock banget kan tuh?

Beda dengan sekarang dimana file sharing merajalela, dulu amat susah mendapatkan album-album lama Green Day. Kebetulan waktu itu gue berkesempatan jalan-jalan ke Singapura dan di Tower Records gue mendapat "1,039/Smoothed Out Slappy Hours" dan "Kerplunk!", dua album sebelum Dookie. (1,039/Smoothed Out Slappy Hours isinya gabungan album pertama, 39/Smooth dengan EP 1000 Hours dan Slappy). 1,039/Smoothed Out Slappy Hours mempunyai kualitas recording dan songwriting yang masih mentahJohn Kiftmeyer tampil sebagai drummer disini. Sementara Kerplunk yang posisi drumnya diisi oleh Tre Cool terdengar lebih matang dan secara songwriting gak jauh berbeda dengan Dookie: unapologetically catchy pop songs yang dibawakan dengan energi seperti Ramones. Lagu yang paling ajib buat gue adalah "2000 Light Years Away".

Green Day Live in Jakarta
Tanggal 2 Februari 1996 Green Day konser ke Jakarta yang tentu saja nggak gue sia-siakan. Ingat sekali waktu itu saat bulan puasa. Sebagai "punk anak mami" gue dan teman-teman dibekali makanan oleh nyokap teman gue dan menyantapnya di parkiran mobil dengan celana pendek, rambut diwarnain, dan rantai dompet menjuntai. More like punk posers...heheh...

Konser ini cukup mengejutkan gue karena baru kali ini gue nonton konser band yang gak ada jeda di antara lagu-lagunya selama 2 jam. Well, ya ada sekali break waktu Tre dan Billie bertukar posisi. Tre nanyiin "Dominated Love Slave" sambil Billie ngedrum. (Belakangan gue baru kalo mereka meniru Ramones dalam memainkan lagu-lagu tanpa jeda). 

Konser yang berlangsung di JCC itu konon kabarnya hampir rusuh. Kaca-kaca depan JCC pecah oleh anak-anak Punk. Gosipnya sih mereka anak-anak Punk hardcore yang gak doyan ama Green Day. Tapi bagi gue paling itu mereka yang nggak mau bayar tiket aja. Kejadian menarik lainnya adalah banyaknya penonton dari tribun yang nekad loncat ke kelas Festival di bawah. Jadi ternyata banyak orang yang nggak kebagian tiket festival yang terpaksa membeli tiket tribun. Ya masa sih nonton musik punk sambil duduk manis? Jadilah mereka berloncatan ke bawah, sampe banyak yang cedera.

Gue mah adem ayem aja di bagian depan panggung dekat speaker, cukup berdekatan dengan posisi Mike Dirnt, sang bassis. Lokasi yang cukup aman dari moshing-moshingan (gue emang mau menikmati musiknya), namun ternyata nggak luput dari bahaya lain. Jadi Billie Joe suka teriak-teriak gak jelas. Dan berhubung posisi gue dekat speaker, ini membuat pekak telinga. Cukup parah sampai-sampai kuping berdengung beberapa hari dan harus dibawa ke dokter THT.

Setelah Insomniac, Green Day secara konsisten berkarya dengan kualitas yang sama baiknya. Album Nimrod (1997) dan Warning (2000) menunjukkan resep mereka dalam bermusik masih mujarab, walau tetap nggak bisa menyamai suksesnya Dookie. 

American Idiot, Green Day Genius
Band yang udah bersama bertahun-tahun memainkan style musik yang sama sering merasa jenuh. Di titik ini banyak band yang bubar atau personilnya pada sibuk bersolo karir. Tapi Green Day menempuh jalan yang lebih optimis: bereksperimen! 

Eksperimen itu adalah sebuah album konsep bernama "American Idiot" di tahun 2004. Green Day perlu berterima kasih kepada pemerintahan Amerika yang saat itu dipimpin George W. Bushyang pernah disebut Billie Joe dalam sebuah wawancara sebagai "presiden terburuk yang pernah kita punyakarena menginspirasi American Idiot. Lagu-lagu yang dibuat pasca 11 September ini lebih epik dan lebih terkonsep dari karya-karya Green Day sebelumnya. Tetap catchy tapi dengan aransemen yang lebih canggih dan isi lirik yang sarat dengan pesan politik. Ini menjawab kritik yang menganggap Green Day cuma band yang memainkan lagu Pop miskin esensi dan inovasi. (yep, it rhymes). 

Seberapa kuat American Idiot? Selain meraih fans baru dari generasi milenium dan memperoleh Grammy sebagai album rock terbaik, American Idiot menginspirasi karya-karya fenomenal Green Day selanjutnya. 21st Century Breakdown, album follow up di tahun 2004 jelas masih senafas dengan American Idiot dan punya kualitas yang sebanding. Kemudian mereka membuat pertunjukan teater musikal American Idiot di Broadway yang dianugerahi Grammy dan Tony awards.

Di tahun 2012, Green Day meluncurkan 3 album sekaligus (!). Judulnya Uno!, Dos!, dan Tre! Di luar dugaan, ketiga album itu terdengar seperti album awal mereka yang ngepop. Basically seperti Green Day di era Dookie namun dengan skill bermusik dan recording yang lebih canggih.

So what's next buat Green day? Apakah mereka akan tetap ngerock ampe jompo seperti Rolling Stones? Cuma waktu yang bisa ngejawab. Tapi yang jelas, gue udah mendapat "the time of my life" bareng Green Day. 





sumber:
www.allmusic.com
wikipedia.org



3 komentar:

IFADWORLD mengatakan...

wah band alternative rock fav gw dari jaman sd nih.. ironisnya waktu itu gada yg nyambung & ngerti waktu gw obrolin greenday ke temen-temen :v

rahmahnz mengatakan...

jadi ketauan umurnya. hehehe
btw aq termasuk generasi milenial berarti. karena baru ngeh greenday pas jaman SMP, pas Album American Idiot.
Wah asik bgt yg bisa liat konsernya. jadi iri

Punkdhut mengatakan...

Hehe hebat ya, Green Day bisa menyatukan Generasi-X & Generasi Milllenial