Monday, January 14, 2008

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Tadinya gue mau nulis review film Djenar Maesa Ayu, "Mereka Bilang, Saya Monyet!". Tapi ternyata udah ada yang bikin di sini. Gue rasa udah cukup mewakili perasaan gue. Lebih baik waktunya dipake buat nulis review yang lain, ya khaan??...(dasar males)

Wednesday, August 22, 2007

Cicak-Man...Ck, ck, ck!

Kontradiksi dengan pernyataan gw di blog sebelumnya, kali ini gw mau memberi nasihat: Jangan berharap terlalu rendah! Kecuali anda ingin merasakan malu yang amat dahsyat.

Sebelumnya gw harus meminta maaf kepada publik Malaysia karena selama ini gw berprasangka bahwa apapun yang dibuat Malaysia berselera rendah a.k.a kampungan. Bahwa satu-satunya produk terbaik mereka cuma lagu Isabella dari grup musik Search.

Begitu pula halnya sewaktu gw mendengar dari seorang teman bahwa di Malaysia sedang gandrung film Cicak-Man. Dengan kurangajarnya, gw langsung ngetawain. Alangkah noraknya! Gw langsung membayangkan kalo film ini tiruan buruk dari Gundala, atau Rama, film superhero Indonesia jaman dulu. Tapi tetep gw merasa penasaran, karena pada dasarnya gw tertarik dengan hal-hal yang norak. Ha!

Pucuk dicinta ulam tiba. Sewaktu jalan-jalan di Ambassador, gw ga sengaja nemuin DVD dengan judul “Lizard Man”. Melihat dari penampakannya, gw berkeyakinan DVD ini tak lain dan tak bukan adalah “Cicak-Man” yang pernah diceritakan temen gw. Maka setelah mengetes seperlunya, gw langsung bungkus bawa pulang.

Sebelum nonton, gw udah siap-siap dengan segala kegaringan film ini. Paling lawakannya ga lucu, efeknya norak, begitu pikiran gw. Tapi apa yang disangka tai ternyata coklat….yang sangat lezat! Film ini sarat dengan adegan yang lucu dengan akting yang prima (salut buat pemeran Cicak-Man/Hairie, Syaiful Apek). Gw tertawa terbahak-bahak karena benar-benar lucu, bukan menghina seperti halnya nonton film horor Indonesia. Special efeknya – walaupun belum bisa dibilang spektakuler – sama sekali nggak mengecewakan.

Film Cicak-Man bersetting di kota khayalan Metrofulus. Sang pahlawan yang bernama Hairie adalah seorang ilmuwan yang bekerja di perusahaan milik Professor Klon (Aznil Nawawi). Dari sebuah ketidaksengajaan yang sangat absurd (lo harus liat sendiri) Hairie berubah jadi superhero yang mempunyai kekuatan seekor Cicak! Ia bisa menempel di dinding seperti halnya Spider-Man. (Setelah dipikir-pikir yang paling pantas menempel di dinding emang Cicak-Man, bukannya Spider-Man. Buktinya ada lagu “Cicak-cicak di dinding”, bukannya “Laba-laba di dinding”). Cicak-Man pada akhirnya harus berhadapan dengan Prof.Klon dan antek-anteknya.

Film ini murni parodi. Ia adalah gabungan Spider-Man, Batman, The Matrix dan entah apa lagi. Semua dibalut dalam humor ala Melayu yang amat sangat lucu. Film ini emang nggak mempunyai kandungan yang terlalu dalam, tetapi sebagai film hiburan yang mengalir dengan alami ia telah menjadi sebuah masterpiece. Superb, well done, 2 thumbs up, or should I say…ck,ck,ck!

www.cicakman.com

Thursday, August 16, 2007

Download lagu neeh....

Good news! Lagu-lagu asyik pilihan gw bisa didownload di Multiply. Klik aja di sini.

Harga Bintang Lima, Kualitas Kaki Lima - Konser Avenged Sevenfold di Tennis Indoor Senayan,7 Agustus 2007

Ekspektasi yang terlalu tinggi akan suatu hal bisa menghancurkan. Contohnya, ketika janjian untuk blindate, dan anda mengkhayalkan si dia secakep mungkin. Setelah seminggu penantian dengan segala macam persiapan agar anda tampil maksimal akhirnya anda harus menerima kenyataan dia bukanlah Miss Universe ato Sang Pangeran tampan. Kekecewaan yang anda derita akan sulit sekali diobati. (Ini intro najes banget seeh…)

Kejadian yang kurang lebih sama belom lama ini gw alami. Cerita bermula dari kabar kedatangan satu-satunya grup band ABG kesukaan gw, yaitu Avenged Sevenfold, yang dikenal juga dengan singkatan A7X. Mereka terdiri anak-anak muda berusia 20 tahunan yang fasih membalut musik Metal ala Iron Maiden, Rock N Rollnya Guns N Roses dan attitude Punk Rock. Skill mereka sungguh di atas rata-rata band anak sekarang. (Untuk ulasan yg meninggi-ninggikan A7X sebenernya bisa dibaca di sini).

Sungguh diluar dugaan bahwa A7X akan datang ke Jakarta mengingat mereka adalah band yang baru naik daun dan albumnya ga beredar resmi di sini. Gw aja cuma punya CD “City of Evil” yang didapat di distro Ish Kabible dengan harga impor (baca: mahal, njing!). Namun ketika tahu konser akan diadakan oleh promotor sebesar Java Musikindo, gw menduga-duga mungkin cukup banyak penggemar mereka di sini, terutama para ABG.

Memang promosi yang dilakukan Java tidak segencar band-band lainnya, seperti Good Charlotte ato Muse. Media yang digunakan - sejauh pengamatan gw - cuma poster. Dan setelah investigasi yang cukup mendalam, diperoleh kesimpulan bahwa area penyebaran poster kebanyakan di distro-distro yang notabene banyak dikunjungi para ABG. Sebuah strategi yang cukup jitu, IMHFO (In My Humble Fucking Opinion). Tapi ada kemungkinan lain. Java tidak menggunakan media billboard karena keburu dipake Fauzi Bowo buat kampanye. (Tanggal konser A7X adalah 7 Agustus 2007, sehari sebelum tanggal pencoblosan Gubernur DKI Jakarta). Di daerah Tebet, gw juga menemukan ada indikasi perobekan poster-poster A7X yang digantikan oleh poster Fauzi Bowo. (maruk banget nih orang).

Kedatangan gw di lokasi konser agak terlambat karena ulah orang tidak bertanggungjawab yang menebar paku di jalan Gatot Subroto. Akibatnya, motor yg gw boncengi ama temen gw harus ditambal ban dulu. Kejadian ini agak de-javu sewaktu nonton konser Exploited di Bandung (baca di sini).

Setelah motor beres, kita langsung meluncur ke Senayan. Setibanya di sana udah ketinggalan band pembuka, Endank Soekamti. But what da hell, mood gw lagi pengen nonton Metalcore bukannya Pop-Punkcore.Di dalam gedung pertunjukan, suasana cukup ramai namun santai. Jeda waktu antara band pembuka dan A7X agaknya cukup lama, sehingga terlihat beberapa orang yang udah resah. Thank god A7X blon mulai…

Penonton bersorak ketika nampak The Reverend duduk di balik drumsetnya. Kemudian secara bersamaan muncul para personil A7X lainnya. Tennis Indoor langsung bergetar oleh musik Beast and The Harlot, sebuah nomor yg cukup kencang dari A7X. Mau gak mau, gw ikut loncat-loncat bareng ABG-ABG itu sambil mengacungkan salam tiga jari ke udara. Hell Yeah!

Diantara gemuruhnya suasana konser, sebenernya ada yang ga beres. Kenapa sound yang keluar jelek gini ya? Nyampur semua kayak tai kebo. Vokal M Shadows terkubur. Begitu pula dengan suara drum The Reverend. Padahal gw suka banget sama permainan ni anak. Sound gitar Synyster Gates paling keras sendiri, nggak enak kayak gitar dangdut. (Atau mereka mencoba jadi grup Metaldut, karena konser di Indonesia? Hmm…)

A7X berturut-turut membawakan nomor-nomor kencang seperti Burn It Down, Unholy Confessions, Chapter 4. Kemudian slow down sebentar dengan lagu bergaya sweet ballad, Seize the Day. Tapi suasana galau gak bertahan lama, karena A7X menggeber lagi lewat lagu Trashed and Scattered. Mereka memberi sneakpeak album terbaru mereka dengan membawakan single pertama, Almost Easy. Masih ngerock, tapi kurang yahud siy, menurut gw. Nomor berikutnya adalah I Won’t See You Tonight. Kayaknya diambil dari album mereka yang lama. Setelah itu lampu Tennis Indoor mendadak padam dan para personil A7X ngacir ke belakang layar. Apaan nih? Udah bubaran? Penonton otomatis meminta “we want more” karena merasa belom puas. Masa blom mainin lagu hitsnya?

Benar saja, ga lama digeberlah lagu jawara mereka, Bat Country. Nomor yang menjadikan mereka superstar karena videonya menjadi no.1 di acara MTV TRL. Penonton menghayati detik demi detik dari lagu tersebut. Cukup mengasyikkan. Keriaan tak berlangsung lama karena begitu lagu selesai mereka langsung pamit dan menghilang dari panggung. Apa-apaan lagi nih? Masa segitu doank? Beberapa penonton mulai resah karena ga ada tanda-tanda band akan bermain lagi. Ada yang teriak-teriak minta balikin duit karena ga puas. Sama, gw juga ngerasa konser NOFX seharga Rp80rb jauh lebih asik daripada konser ini yang berharga Rp300ribu!

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini, adik-adikku yang manis? Jangan sepenuhnya percaya kalo EO besar yg ngadain acara pasti akan memuaskan. Kemudian berhati-hatilah kalian yang mengendara motor karena banyak paku bertebaran di jalan.

Monday, May 21, 2007

Sisi Katro Punk Rock - Konser NOFX di PRJ, 21 April 2007

Siapa bilang Punk Rock harus selalu macho, beringasan dan anarkis? NOFX meredefinisi Punk sebagai paham “jadilah diri sendiri, sekatro apapun anda”. Selama 24 tahun berdiri, mereka konsisten meramu humor dan Punk tanpa menjadi (terlalu) tolol. Semua adalah cerminan dari pribadi keempat personilnya, Fat Mike (bass/vokal), El Hefe (gitar), Eric Melvin (gitar), dan Erik Sandin (drums) yang nggak ragu untuk menertawakan diri sendiri (dan orang lain, tentunya).

Indonesia (Jakarta dan Bali) cukup beruntung disinggahi band sekaliber NOFX. Sebagai Punk Rocker, adalah dosa besar kalo nggak sampe nonton salah satu dewa Punk ini. (Menurut Fat Mike, band Punk nomor 1 adalah Bad Religon, nomor 2 Rancid, dan urutan ketiga baru NOFX. Makanya Fat Mike berharap Bad Religion segera bubar, supaya NOFX bisa jadi nomor 2).

Seperti halnya Exploited, konser NOFX kali ini digawangi oleh EO kecil, yaitu M2 production (kalo ga salah??). Sehingga wajar kalo promosinya minim sekali. Mereka hanya mengandalkan penyebaran poster, email, dan promosi dari mulut ke mulut (dikenal jg dengan nama oralvertising, jangan disamakan dengan oral sex ya…). Yang menarik adalah jadwal konser NOFX di Jakarta berdekatan dengan kedatangan band idola para ABG, Good Charlotte. Bedanya Good Charlotte didatangkan oleh Java Musikindo, dengan promosi jor-joran melalui above the line dan below the line (…apa siiih…) sehingga terlihatlah pertarungan yang nyata antara Kaum Kapitalis vs Proletar. The Mainstream vs The Extreme. The Assholes vs The Heroes. (WTFK????)

Cukup dengan Good Charlotte, mari kita kembali membicarakan musik yg berkualitas . Di luar berbagai kekurangan yang terjadi karena diadakan oleh EO kecil, ada berkah yang didapat, yaitu tiket yang cukup murah, Rp80.000 saja! Coba bandingkan dengan Good Charlotte yang mencapai Rp350.000 (Btw, kok ngomongin band setan itu lagi ya?).

Pada hari H, mulai terlihat kekurang-organisasian pengorganisir acara. Di jadwal tercantum bahwa pintu PRJ akan dibuka pukul 5 sore. Pada kenyataannya, jam segitu pintu gerbang masih tertutup rapat, sehingga terlihat pemandangan sekumpulan calon penonton konser seperti sedang menanti kereta lebaran. Kecuali bahwa mereka memakai kaos NOFX dan berambut mohawk, bukannya make kebaya dan kondean.

Pintu gerbang depan baru dibuka pukul 19.00, setelah itu “NOFXers” harus mengantri di pintu kedua untuk pemeriksaan tiket. Panitia cuma menyediakan dua lajur, memakai jasa segelintir polisi yang memeriksa tiket dengan gaya yang sengak. Proses ini berlangsung sangat lamban kayak kiong. Nggak heran kalo makian dan cacian keluar dari mulut calon penonton yang kecapean. Contohnya,”Ngentoot!”, “Taik!”,”Kontol!”, dan tentu saja, “Ndeso!” dan “Katro!”

Setelah ngantri sekitar sejam, dan berharap langsung bisa ajojing, ternyata massa diberhentikan lagi untuk mengantri masuk di pintu ketiga. Kali ini ini cuma satu pintu yang dibuka. “Soundtack” nya apalagi kalo bukan koor sejuta makian. Daripada menghabiskan energi, gw cuma bisa memaklumi, “Pantesan tiketnya murah…..”

Sekitar Jam 20.30, King Ly Chee, band pembuka dari Hong Kong naik pentas. Mereka membawakan musik Hardcore dengan vokalis cewe Chinese bermohawk. Musiknya standar aja, banyak band-band Hardcore Indonesia yang lebih keren dari mereka. Penonton juga kayaknya kurang respek sehingga banyak jari tengah mengacung di udara, meminta mereka turun.

Pukul 21.00, King Ly Chee akhirnya turun pentas disambut suka cita para penonton yang udah ga sabar lagi. Sembari menunggu NOFX siap, penonton ditemani oleh musik Reggae dan Dub dari speaker panggung. Cukup menenangkan…

Akhirnya….sekitar jam 21.30, para personil NOFX naik panggung disambut oleh gegap gempita para penonton yang udah menanti dari sore hari. Fat Mike membuka dengan sedikit membual, “Did you guys see the Exploited when they came here?...We’re much better than them! Lalu meluncurlah lagu Dinosaurs Will Die yang menghentak. Massa langsung kesetanan bermoshing ria. Anak skate, Punkers, bule kere, bule tajir, semuanya templek disatukan oleh musik NOFX.

Songlist mereka yang gw inget: Franco Unamerican, Lenoleum, The Brews, Don’t Call Me White, Murder the Government. Nggak ketinggalan, mereka membawakan lagu Bad Religion, “Do What You Want” dan “Radio” dari Rancid yang diaransemen menjadi Reggae. Selain itu mereka juga memainkan sebuah nomor Jazz, yang menonjolkan permainan terompet El Hefe. Sangat variatif!

Menjelang akhir konser, pintu dibuka untuk 200 punkers yang dari awal menunggu jebolan. Mereka sepertinya Punk-punk borok yang ingin mencari masalah dan gak gitu ngerti musik NOFX. Fat Mike pun berceloteh, “Kita kedatangan 200 orang miskin yang nggak mampu buat beli tiket. Hmm…kalian semua sebenarnya juga orang miskin sih…..tapi jangan berkecil hati karena ada 200 orang yang lebih miskin dari kalian!”

Untungnya suasana tetap kondusif dengan selingan musik yang berirama reggae, “Kill All The Whitemen” berhasil menggoyangkan--sekaligus mengademkan-- satu PRJ. Disamping lawakan-lawakan Fat Mike dan El Hefe menjauhkan konser dari kerusuhan.

NOFX menyudahi konser setelah memenuhi keinginan “we want more” dari penonton. Sebenarnya malas untuk berpisah dengan para living legend ini, tapi daripada digebukin pake rotan sama polisi? Yuuuuk……..

Di samping berbagai kekurangan yang ada (banyuaaak, actually), pujian layak dialamatkan buat panitia karena telah berani mengadakan acara ini. Dilihat dari penonton yang membludak, kayaknya konser ini cukup berhasil. Dan semoga saja NOFX menepati janjinya untuk mengajak Bad Religion dan Rancid main ke sini. Jadi Punkers! Mari kita semua bergandengan tangan, berdoa, kalo berita ini bukan guyonon Fat Mike semata. Oi…oi…oi!!!


Monday, September 18, 2006

Album Terbaru Bunga: Hampir Gak Norak


Band yang masih sulit untuk lepas dari bayang-bayang almarhum Galang Rambu Anarki ini mencoba eksis kembali ke dalam industri musik dengan menempatkan Anda, vokalis yang sempat beken lewat single “Tentang Seseorang”, OST “Ada Apa dengan Cinta”. Langkah yang tepat atau usaha bunuh diri? Seperti yang banyak orang tau, image drugs pada Galang cukup kuat sehingga mau gak mau Bunga pun diidentikkan sebagai band yang rebellious. Lantas apakah tepat kalo Toni, vokalis lamanya diganti Anda, yang justru ultra-melankolis?

Pertama kali mendengar album yg diberi titel “3” ini, pendengar langsung dikejutkan oleh irama yg cukup menghentak dari lagu “Hey Bro”. Bahkan mereka yg paling skeptis pun (baca: saya sendiri) akan mengakui kalo ada yg lebih dari Bunga, bukan sekedar band yg pernah disinggahi Galang Rambu Anarki. Vokal Anda terdengar garang, berdistorsi, sehingga muncul keraguan, apakah ini orang sama yg menyanyikan soundtrack “Ada Apa dengan Cinta?”

Lagu berikutnya diberi judul “Norak” yang isi lagunya memang norak bin cemen. Pemberian judul yang “sesuai” ini menunjukkan selera humor yang cukup tinggi dari para personil Bunga. Tapi pada lagu “Hanya Manusia”, saya mulai bingung nih. Ini lagu serius apa guyonan? Isinya sih lebih norak dari lagu “Norak”. Tapi kenapa nggak dikasih titel “Norak Part 2”, atau “Jayus Song?” Ah, kurang konsisten, nih…

Sebenarnya album ini merupakan comeback yang cukup menjanjikan dari Bunga. Para personilnya pun sepertinya mempunyai dasar musik Rock yang cukup kuat. Terlihat dari beberapa track yang “nendang”, seperti “Hey Bro”, “Temperamen”, “Cabut”, “Antara Siang dan Malam”. Terasa unsur-unsur Classic Rock yang dicampur dengan Modern Rock tanpa menjadi terlalu trendi.

Tapi seperti biasa, dengan pertimbangan komersil, untuk merangkul pasar cewek, lagu-lagu cemen—atau meminjam bahasa Bunga: “norak” — lebih mendominasi. Padahal, andaikata Bunga mau sedikit total dalam nge-rock, akan lebih banyak “bro-bro” yang menjadi bersimpati sama mereka. Ketidakjelasan dalam meraih segmen pasar dapat menjadi bumerang, bisa-bisa mereka tidak memperoleh pasar sama sekali. Untuk menyalurkan sisi melankolisnya, Anda sebaiknya tetap menjadi solois saja, mungkin dengan mengisi soundtrack berbagai sinetron ABG.

Tuesday, July 11, 2006

­­The Raconteurs-Broken Boy Soldiers

Agaknya ambisi Jack White terlalu besar untuk tetap setia di The White Stripes. Mungkin dia merasa mentok juga mengeksplorasi rock minimalis bersama drummer Meg White. Mungkin dia perlu drummer yg lebih skillful dan dukungan musisi-musisi berbakat lainnya. Agaknya itu alasan dibalik pendirian band proyekan Jack White dengan para musisi sekaligus teman-teman lamanya, The Raconteurs.

Sebenernya konsep musik The Raconteurs gak jauh-jauh amat dari The White Stripes, seperti track andalannya “Steady As She Goes” yang masih beroroma Garage Rock. Tapi sepertinya musik The Raconteurs ingin dibuat lebih jadul lagi, ke era film ‘Cold Mountain’ (di mana Jack White pernah bermain di sana dan cinlok dengan Renee Zelweger). Track yang paling berasa antik adalah “Broken Boy Soldier”, di mana terdapat permainan perkusi yang sangat menarik.

Track lainnya yang juga mantaps adalah “Hands” dan “Intimate Secretary”, mirip The Beatles dalam eranya yang paling psychedelic. Track ”Level” memperdengarkan sound gitar kasar yang menyayat ala The White Stripes dalam beat funky.

Soal sound, jelas lebih kaya dari The White Stripes. Selain munculnya pemain bass, dapat disimak pula permainan keyboard Brendan Benson. Kesimpulannya, band ini adalah The White Stripes yang ber-skill!

Friday, June 30, 2006

Argentina Keok! Thanks to Pekerman…Hiks…Hiks…

Selama kompetisi Piala Dunia 2006 berlangsung, semua orang tahu Argentina adalah tim yang hebat dan layak jadi juara. Tim ini sarat dengan individu ber-skill tinggi dan mempunyai organisasi permainan yang matang. Bisa dibilang nggak ada yang bisa mengalahkan Argentina, kecuali diri mereka sendiri. Dan yang melakukan bunuh diri pada pertandingan perempat final melawan Jerman (30/06) kemarin adalah pelatihnya, Jose Pekerman.

Strategi awal Pekerman sih benar. Ia menurunkan striker kreatif, Carlos Tevez, bukannya Javier Saviola sebagai starter. Ini memperlihatkan Pekerman ingin bermain menyerang habis-habisan. Dan strateginya membuahkan hasil. Babak pertama adalah mutlak milik Argentina. Juan Riquelme selaku jendral lapangan tengah memimpin rekan-rekan setimnya mengobrak-abrik pertahanan Jerman. Kata Bung Ronny Pattinasarani, Jerman tidak diberi kesempatan mengembangkan “permainan dari kaki ke kaki”.

Pada menit ke-49, tendangan pojok Riquelme disambut dengan sundulan Roberto Ayala dan berhasil merobek gawang jerman. 1-0 untuk Argentina. Sebuah gol yang menjadi titik tolak permainan, Jerman yang tadinya bermain terlalu hati-hati kini lebih menyerang. Permainan jadi menarik, karena Argentina pun bermain dengan dengan gaya yang sama.

Musibah Argentina bermula ketika kiper mereka, Abboandanzieri cedera tulang rusuknya setelah berbenturan dengan Miroslav Klose. Ia segera digantikan oleh Leo Franco dari Atletico Madrid, yang kalo melihat ekspresinya sih kayak nggak niat main. Tapi tragedi sesungguhnya terjadi beberapa menit berikutnya, ketika Jose Pekerman menarik Juan Riquelme dan menggantikannya dengan Cambiasso, gelandang bertahan. Dengan sisa waktu tinggal 20 Menit lagi dan unggul 1-0, Pekerman merasa cukup dengan barmain bertahan dan berharap timnya bisa melenggang ke semifinal. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Memangnya Argentina lagi lawan siapa? Indonesia? Kalo gitu sih fine2 aja. Tapi ini Jerman….!!! Yang punya mental baja. Lupakah kalo Jerman punya julukan "Tim Diesel", yang makin lama makin panas? Well, well, setelah Argentina memutuskan untuk bermain defensif, mesin diesel Jeman menjadi lebih panas, dan panas lagi sampai mau meledak!

Apa yang ditakutkan pun terjadi. Pada menit ke-80, 10 menit menjelang pertandingan usai, Miroslav Klose berhasil menyambut umpan Borowski dan menciptakan gol lewat sundulan. Skor 1-1. Bravo…buyarlah mimpi Argentina. Ingin main menyerang, mereka tidak punya playmaker Juan Riquelme yang udah ditarik keluar. Tanpanya, serangan2 Argentina seperti tidak bernyawa. Belum puas membuat keputusan tolol, Pekerman menarik keluar Hernan Crespo dan menggantikannya dengan Julio Cruz. Bukannya masukin Lionel Messi, yang ditunggu-tunggu suporter Argentina termasuk Maradona, ini malah masukin pemain yang biasa-biasa aja. Ok, dia lebih jangkung, tapi kalo gak bisa ngapa-ngapain percuma aja.

Ketika pertandingan mencapai deadlock, dan harus ditentukan lewat adu penalti, seluruh dunia pun tau kalo Jerman yang bakal lolos. Selain tendangan2 mereka lebih mantap, kipernya, Jens Lehmann, jelas lebih tangguh dibandingkan kiper pengganti Argentina, Leo Franco. Lehmann membuktikan superoritasnya dengan menahan 2 tendangan penalti dari Roberto Ayala dan Cambiasso. Dan loloslah Jerman……..titit...!

Rating Pemain + Pelatih:

ARGENTINA
Abboandanzieri = 7
Coloccini = 7
Heinze = 6
Ayala = 7 (gak jadi 8 krn gagal penalti)
Sorin = 8 (merajalela di sisi kiri dan tengah)
Rodriguez = 7 (sayang gak bisa menyelamatkan Argentina lagi spt waktu lawan Mexico)
Mascherano = 5 (I don’t like this dude!)
Riquelme = 7 (sayang diganti…)
Gonzalez = 6
Tevez = 8 (best of the bunch!)
Crespo = 6
Franco = 5 (el stupido!)
Cambiasso = 6
Cruz = 4 (sucks bad…bisanya cuma diving, tipikal pemain liga Seri A Italia. Gak gw kasih 0 karena dia masukin penalti dg bagus)
Pekerman = 0 (yup, kali ini nol besar bwat anda, pak…jangan diulangi lagi ya?)

JERMAN
(Berhubung gw masih bete, gw cuma me-rating beberapa pemainnya saja…:P)

Lehmann = 10 (perfect ten bwat doi, karena he’s the hero!!)
Odonker = 9 (pemain sayap atraktif!)
Klose = 8 (top scorer…masih tajem aja…anjing!)
Ballack = 7 (menurut FIFA sih dia man of the match-nya, tp bwat gw biasa aja tuuh)
Klinsmann = 6 (kenapa gak dari awal menyerang? untung punya Lehmann…dan keputusan bagus masukin Odonker)