Monday, May 04, 2009

Mari Bu, Buku Iklannya...

Menyambung review Sex After Dugem dan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (tanggal 2 Mei kemaren, lewat dikit gpp ya?) mari kita membahas buku iklan lagi. Sebelumnya, penting ga sih baca buku iklan? Emang ga penting2 amat, jauh lebih penting baca blog ini...hahaha! Oke serius, deh. Mencontek kata2nya Luke Sullivan, lo lebih percaya mana, dibedah oleh dokter yang males baca atau dokter yang rajin meng-update dirinya dengan buku2 bedah & kedokteran? Nah...kurang lebih gitu deh sama iklan. Cuma bedanya, kalo di dunia iklan, nobody dies! Orang dengan modal sotoy bisa aja bikin iklan. Tapi bagaimana karyanya, apakah bercita rasa tinggi? Apakah bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa? Makanya, untuk menjadi ahli, kita harus rajin baca dan terus belajar. Jangan cepat puas, stay foolish, kata Steve Jobs.

Daftar buku ini disusun secara acak alias in no particular order, kecuali yang nomor wahid, "Hey Whipple Squeeze This!" karangan Luke Sullivan, sengaja gw taro pertama karena It's the bessstt!!! Bahkan tulisan ini mencontek bab terakhirnya, cuma gue tambahin beberapa...hehehe. Baik anak2, mari kita mulai pelajarannya…

1. Hey Whipple, Squeeze This! A Guide To Creating Great Ads (Luke Sullivan.John Wiley & Sons, Inc., 2003)
Ini buku dewa nih. Dibacanya enak banget karena gak menggurui dan penuh humor sehingga tanpa sadar, kita dapat ilmu yang banyak. Ditulis oleh Luke Sullivan, copywriter award-winning dari agency Fallon McElligott yang terkenal dengan kampanye "Perception/Reality" majalah Rolling Stone. Kalo lo cuma punya budget beli satu buku seumur hidup, belilah buku ini! Isi secara keseluruhan emang berasa copywriter banget (baca: banyak tulisan, sedikit gambar, dengan porsi copywriting yang lebih banyak), tapi tetep asyik dan relevan kok buat para art director. Sangat, sangat, sangat direkomendasikan. Eh, jangan minjem ke gue ya, beli ndiri!

2. Cutting Edge Advertising: How to Create the World's Best Print for Brands in the 21st Century (Jim Aitchison. Prentice Hall
, 1999)
Gue baca jaman kuliah tahun 2000an, sampai sekarang masih relevan. Berbeda dengan buku2 lain di mana penulisnya satu orang dan mempunyai satu opini pula, Jim Aitchison mengumpulkan berbagai pendapat pakar yang beragam. Jadi tinggal kita yang menyimpulkannya.
Sayangnya punya gue ilang euy….hayo, siapa yang minjem? Balikin!

3. Creative Advertising (Mario Pricken.Thames & Hudson, Ltd
, 2003)
Dibanding "Hey Whipple...", buku ini lebih boring. Tapi di sini teknik brainstormingnya lebih detail. Dan contoh2 iklannya pun oke punya. Maklum yang nulis art-based, jadi penuh gambar2 cantik. Isinya cukup tebal dan berguna untuk bikin iklan yang award-winning.

4. The Art of Advertising -
George Lois on Mass Communication oleh (George Lois & Bill Pitts. Harry N Abrams, 1977)
Ini adalah buku yang memuat karya2 salah satu tokoh kreatif favorit gue, George Lois. Dia basicnya seorang art director, tapi mempunyai kepekaan verbal yang cukup tinggi. Karya legendarisnya adalah sampul majalah Esquire bergambar Mohammad Ali berpose seperti Yesus. Figur kontroversial ini alumni DDB tahun 1960an yang kemudian mendirikan biro iklan sendiri, PKL.


5. Lanturan Tapi Relevan (Budiman Hakim. Galang Press, 2006)
Buku pertama Budiman Hakim ini ngingetin banget ama "Hey Whipple...". Gayanya sama, nyantai banget tapi penuh makna. Buku iklan Indonesia pertama yang gue salut lut lut lut…

6. Komunikasi Cinta (Djito Kasilo. Kepustakaan Populer Gramedia,
2008)
Nah, kalo Budiman cerita ngalor ngidul, Djito lebih praktis dalam memberi pelajaran. Dia bikin contoh kasus, semacam workshop kecil2an ama beberapa praktisi iklan. Jadi keliatan tuh bagaimana mendevelop sebuah kampanye iklan dari bikin strategi sampai eksekusi. Landasan teorinya adalah cinta....taela...


7. Pick Me – Breaking Into Advertising And Staying There (
Nancy Vonk & Janet Kestin. John Wiley & Sons, Inc., 2005)
"Pick Me" ditujukan buat yang baru mau atau barusan nyemplung di dunia iklan. Sebenernya, ini adalah kompilasi dari pertanyaan2 yang muncul di kolom AskJancy di "ihaveanidea.org" dikumpulkan jadi satu. Sayang banget gue baru punya pas udah lumayan lama di iklan. Kayaknya lebih berguna waktu awal2 dulu. Sigh….

8.The Book of Graphic Problem-Solving (
John Newcomb.R.R Bowker Company, 1984)
Buku jadul yang udah gue punya sejak masa kuliah dan selalu jadi pegangan waktu pertama-tama kerja. Di sini diberitahu teknik mencari ide menggunakan Bite System, yang pada dasarnya adalah cara membedah pesan komunikasi dengan sedetail mungkin. Lucunya, walaupun outputnya adalah visual, tahap awalnya melalui tulisan. Bagus nih, jadi ajang latihan nulis buat para visual-based kreatif. Contoh yang digunakan adalah membuat sampul majalah Medical Economics, tempat John Newcomb bekerja.Walau begitu, masih bisa diterapkan buat bikin iklan atau media yang lain. Mantep.

9. The Advertising Concept Book (Pete Barry.
Thames & Hudson, Ltd, 2008)
Buku penting buat bikin kampanye iklan yang terintegrasi, terutama bagi para pemula. Uniknya, karena fokusnya adalah membuat konsep, konsep dan konsep dan bukannya ngulik eksekusi, ga ada contoh iklan jadi di sana, semuanya disajikan dalam bentuk sketsa. Seperti yang ditulis di sampul bukunya, “Think now, design later”.


10. When Advertising Tried Harder
: The Sixties, the Golden Age of American Advertising (Larry Dubrow. Friendly Press, 1974)
Menyoroti revolusi kreatif periklanan Amerika di tahun 1960an. Tentu saja, porsi besar diperuntukkan bagi DDB karena karya2nya yang fenomenal pada masa itu. Gue baca waktu magang di Matari tahun 2001. Di sana, koleksi buku (jadulnya) emang bagus2. Ada yang jual ga ya, sekarang?


11. It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be (Paul Arden. Phaidon Press Limited, 2003)
Buku motivasi kontemporer buat pribadi yang kontemporer seperti anda! Isinya singkat tapi menusuk dalem. Emang ga semata-mata ngomongin iklan, tapi nyambung jugalah dengan kehidupan pembuat iklan yang tiap hari dituntut untuk menelorkan karya2 yang hebring. Paul Arden juga dulunya seorang creative director andal.

Labels:

Monday, April 20, 2009

Sex After Dugem, Anyone?

Buku ini lebih berhak menyandang judul "Confessions of an Advertising Man", daripada bukunya David Ogilvy. Ogilvy lebih banyak menulis seputar teknis membuat iklan, sementara Budiman Hakim bicara jujur soal kisah hidupnya yang penuh kesablengan. Benar kata Butet Kartaredjasa di Kata Pengantar, bila ada polisi yang ngebaca ini (terutama bab soal dia nyimeng), Budiman bisa ditangkep! Anyway, David Ogilvy udah duluan nulis bukunya, jadinya Budiman harus puas dengan "Sex After Dugem". Judul yang masih relevan dengan isinya yang menohok, jujur, ngga “pretentious” seperti tulisan gue ini :P.

Sex After Dugem emang menguji ke-jaim-an kita, bahkan sebelum memiliki bukunya. Paling nggak itu yang terjadi ama gue. Ceritanya, di Gramedia, gue udah ngubek2 di bagian Periklanan dan ga nemu2 itu buku. Padahal ada buku Budiman yang lain, “Ngobrolin Iklan Yuk” dan “Lanturan Tapi Relevan” di rak yang sama. Setelah mencari cukup lama akhirnya gue nyerah, dan nanya deh ama sang penjaga. Alamak, malunya bukan main mau nyebut judul buku Sex After Dugem itu. Begini kira2 dialognya:

Gue (G): Mas mas, ada bukunya Budiman Hakim yang baru ga?
(Gue mencoba sekuat tenaga ngga menyebut judul buku itu.)

Bagian informasi (BI): Judulnya apa?

G: (keparat! gue memaki dalam hati) Nggg....Sex After Dugem?
(Ahiahahaiaiahaia...kesebut juga)

BI: Oh, ada mas. Di bagian Sosial Budaya, satu lantai lagi di atas. Udah sedia kondom blom, mas? Jaman sekarang kudu ati2 lho, kalo mau nge-sex after dugem.

(Gue pun ngeloyor dengan muka tengsin. Oke oke, tulisan yang berwarna merah itu gue tambahin)

Sesuai dengan gayanya Budiman, let’s cut the crap. Apa sih relevansi buku Sex After Dugem yang berisi hal2 remeh temeh--seperti nyimeng ampe ga bisa berhenti ketawa, kebiasaan solat injury time, sex after dugem, ditaksir homo bule, Soeharto yang ikut kuis Deal or No Deal dengan malaikat, dsb--dengan dunia iklan? Nggak ada hubungan langsung, karena ga ada teori-teori iklan mutakhir dalam buku ini. Dengan kesederhanaan dan keremeh-temehannya, Budiman mencoba membuka mata kita untuk menjadikan kehidupan sebagai sumber inspirasi yang bisa digunakan untuk membuat iklan. Kekuatan iklan yang insightful bukan dari kosmetik alias gimmick, tapi dari kesederhanaan dan kejujurannya. Begitu kira2 yang ingin disampaikan Budiman, senada dengan perkataan Bill Bernbach, “I’ve got a great gimmick. Let’s tell the truth".

Lantas, apa kita perlu sekonyol dan sebengal Budiman Hakim untuk menjadi Kreatif yang baik? Ya nggak lah. Ambil spiritnya aja dan juga cimengnya…asssoy…

Labels: , ,

Monday, April 13, 2009

The Upstairs - Magnet! Magnet! Kuatkah Daya Tariknya?


Untuk elo yang buru2 atau punya penyakit males baca, gue kasih jawaban singkat: nggak! Daya tarik album ini lemah sekali. Oke, silakan kalo mau buka Facebook lagi :)....buat yang hobi baca, lanjut yuu....

Untuk sound dan penguasaan instrumen di album ketiga ini, gue angkat jempol sama The Upstairs. Tapi songwriting? Wah, kayaknya mereka belum bisa mengalahkan diri mereka sendiri di album perdana, Matraman. Walaupun kualitas rekaman Matraman sedikit di bawah standar, tiap lagu punya "soul" yang cukup membuat orang - meminjam istilah Jimi Multhazam - berdansa resah.

Hal yang paling menonjol dari Magnet! Magnet! adalah permainan keyboard dari anggota terbaru, Adink Permana, yang menggantikan Elta Emanuella. Soundnya keren sekali, mirip DEVO dengan gaya yang lebih agresif.

Tapi ya kekaguman gue cuma di situ. Seperti gue bilang tadi, The Upstairs seperti lupa untuk membuat lagu yang bagus dan lebih banyak berkutat dengan sound dan unjuk skill. Hampir ga ada lagu yang layak disandingkan dengan hits2 mereka terdahulu, seperti "Apakah Aku Berada Di Mars Atau Mereka Mengundang Orang Mars" (taik, judulnya panjang amat), "Matraman", "Antah Berantah", dll.
Bahkan, lagu "Kunobatkan Jadi Fantasi" punya riff gitar yang luar biasa mirip dengan lagu "Turning Japanese" milik The Vapors. Ini tribute apa nyolong ya? Untuk lagu2 lainnya,
ga ada yang spesial. Tapi, untungnya ada beberapa pengecualian...

"Kami datang untuk musik" adalah track yang paling mendingan. Keyboardnya DEVO berat! Liriknya pun cukup kuat, berisi manifesto bahwa The Upstairs adalah band yang cinta damai, mengajak penonton konser untuk ga berbuat rusuh. Lagu berikutnya, "Di Antara Haluan" juga layak diandalkan. Iramanya slow dan menghanyutkan. Jimi nyanyi dengan nyantai, ga teriak2. Sekali lagi, permainan keyboard Adink cukup menonjol, ditambah tabuhan drum Beni yang passs bener. Mereka melakukan hal yang kurang lebih sama di lagu "Percakapan". Kali ini Dian Maryana yang mengambil lead vocal mendayu-dayu.

Jadi dari 12 lagu yang disajikan di Magnet! Magnet! cuma 3 biji yang layak dengar? Ngapain beli CD originalnya ya? Eiits...tunggu dulu. The Upstairs cukup pintar menyiasati hal ini. Cover album ini ternyata bisa diganti2 lho. Ya, lyric sheetnya terdiri dari lembaran2 yang di baliknya terdapat lukisan masing2 personil The Upstairs + 1 foto full band (liat inset di atas). Sebuah langkah yang inovatif, jadi kita ga akan bosen ama covernya. Kalo elo Modern Darling beneran ya kudu punya lah, buat koleksi. Atau mau ngeprint sendiri? Malu donkk....


Labels: ,

Sunday, April 12, 2009

Jackie Chan Mengurangi Tendangan, Ganti Bersilat Lidah di Shinjuku Incident


Anda-andi yang pengen liat aksi akrobatik kungfu ala Jackie Chan, pasti akan kecewa dengan Shinjiku Incident. Film yang disutradarai Derek Yee ini lebih banyak memuat drama, porsi action hanya sepertiganya. Tapi, seperti halnya film2 mafia yang bagus, actionnya walau sedikit tapi sangat mencengangkan, karena adegannya benar2 dibutuhkan, bukan demi mengumbar darah doang.

Diproduseri sendiri oleh Jackie Chan, Shinjuku Incident menyoroti kehidupan seputar para imigran gelap asal Cina yang mencoba kemujuran di Jepang, tepatnya di sebuah distrik di Tokyo bernama Shinjuku.


Jackie Chan berperan sebagai Steelhead, seorang petani sederhana di Cina yang tujuannya ke Jepang adalah untuk menyusul pacarnya, Xiu Xiu yang lama nggak memberi kabar berita. Steelhead diajak oleh sobatnya, Jie untuk tinggal bersama rekan2 sesama imigran gelap di sebuah rumah sewaan di Shinjuku. Untuk menyambung hidup, mereka kerja serabutan, seperti membersihkan saluran air, menjual kartu telepon palsu, mencuri, dll.


Tanpa sengaja Steelhead menemukan Xiu Xiu tapi ternyata ia telah menjadi istri salah satu bos Yakuza, bernama Eguchi. Kebetulan juga, Steelhead menyelamatkan Eguchi dari pembunuhan sesama bos Yakuza. Maka Steelhead dijadikan kaki tangan Eguchi untuk memenuhi ambisinya menguasai Yakuza. Singkat cerita, para imigran gelap Cina akhirnya mendapat tempat yang layak di bawah kepemimpinan Steelhead. Namun, konflik belum selesai karena kubu Yakuza yang membenci Eguchi masih terus mengintai. Selanjutnya? Tonton ndiri daah…

Seperti disebut di awal, ini bukanlah film tipikal Jackie Chan. Ini adalah sebuah lompatan bagus dari Jackie Chan yang udah kenyang (mungkin eneg) memamerkan skill kungfunya di film action. Di sini kita liat Jackie Chan yang lebih menusiawi, lebih biasa2 saja, yang bisa terluka, bisa….ah, nanti jadi spoiler lagi. Pokoknya, buat yang bingung mau nonton film ini atau Push, gue berani jamin Shinjuku Incident jauh lebih keren. Buat yang nekad nonton Push, I wish you all the best!

Labels:

Superman Is Dead - Angels and the Outsiders


“Angels and the Outsiders” adalah album terbaru dari grup punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID). Gue bukan penggemar berat SID, tapi entah kenapa sulit melawan hasrat untuk memiliki album ini. Jadi deh gue beli album originalnya, bukan nyari downlodan atau mp3 bajakan.

Kesan pertama adalah…wow! Cover album yang cantik sekali! Digarap seperti poster2 film tahun 1960an (atau malah 1920an? I don’t know, u do the research!). Pokoknya klasik banget (lihat inset). Gambar pria yang tampangnya seperti Jerinx sedang membawa kunci inggris sambil ngobrol ama seorang anak. Sementara di bagian bawah ada gambar personil SID bersepeda lowrider. Di bagian dalam, semakin kentara obsesi SID dengan sepeda lowrider. Ada foto personil SID lagi mejeng dengan sepeda lowridernya masing2. Btw, apa sih hubungannya punk dan lowrider? Eco-friendly? That’s so hippie…:)


Oke, cukuplah membahas cover dan fashion yang cuma permukaan. SID kan isinya bukan cuma itu? Well, setidaknya itu yang mereka coba tekankan, walau kadang2 fashion mereka masih overpowered. Heh heh…that’s another story. Anyway busway…kembali ke…musik!


Lagu pertama bertitel “Kuat Kita Bersinar”. Bagaimana? Kacrut abis, sodara-sodara! Musik dan liriknya nggak banget deh. Maksudnya mungkin bikin anthem kayak lagu “England Belongs To Me”-nya Cock Sparrer, tapi trus terang malah bikin eneg. Di akhir lagu semakin parah dengan koor anak2 kecil. Agak terlalu imut buat gue.


Lagu kedua, “Jika Kami Bersama”, langsung bikin gue kecewa dua kali. Intronya plek ketiplek dengan lagu “Good Riddance” punya Green Day, dan secara keseluruhan ga jauh beda dengan track pertama, anthemic blablabla yadayadayada. Bedanya, lagu ini berkolaborasi dengan Shaggy Dog yang membuatnya lebih mirip The Mighty Mighty Bosstones. Apakah SID akan terus menyiksa kuping gue di lagu berikutnya? Agaknya begitu. Lagu “Outsider” adalah anthem yang berisi manifesto tentang “the Outsiders”. Hoaaahhhmmmm…


“Poppies Dog Anthem” adalah lagu keempat. Dari judulnya, pasti ini sebuah anthem juga. Tapi pemirsa, kenapa lagu ini bikin bulu kuduk gue berdiri? KEREEEEEN!!!! Musik dan liriknya bener2 menusuk kalbu dan tanpa sadar gue ikut ber-singalong:
Berandal-berandal Poppies 2
Berandal-berandal yang tak pernah mati

Berandal-berandal Poppies 2

Bukan berandalan sakit hati

Check out juga di bagian verse-nya, yang menurut gue amat sangat keren:

Penuh gaya kaca mata bandit cinta kesepian
Siapa berani mendekat kan pasti disikat

Jeni sudah, Mona juga habis di hotel belakang

Dan cinta kan berakhir di bandar udara

Ternyata SID punya selera humor yang cukup tinggi. Berbeda dengan kelaziman, lagu2 yang kurang kuat mereka taruh di depan, sementara yang keren2 ditempatkan di belakang. Setelah “Poppies Dog Anthem” yang fenomenal, bisa dibilang grafiknya terus naik, menuju puncak kenikmatan!


“Saint Of My Life”, walaupun awalnya mirip lagu Green Day, langsung meledak dengan sempurna di bagian reff. Sangat catchy. Tapi itu belum apa2 dibanding “Night Of The Lonely”, yang progresi chordnya begitu gelap. Kicks you in the ballzz! Reffnya penuh harmoni, sedikit mengingatkan pada Social Distortion. Di background pun ada suara biola yang mendayu. Asoyy…


Lagu2 lain yang perlu di-mention adalah “Punkrock Lowrider”, sebuah anthem punkers bersepeda lowrider krewzing around Kutafornia. Sementara “Luka Indonesia” punya lirik yang menusuk: “Satu nusa satu bangsa, satu nusa saling mangsa”. Dibuka oleh riff gitar rockabilly kemudian melaju dengan beat drum speed punk. Yang cukup mencuri perhatian adalah penggunaan gamelan (di bagian credit ditulis “cengceng”) pada bagian akhir lagu ini.


Kemudian ada “The Days of A Father” yang menyelipkan riff2 metal. Ada pula “Memories of Rose” yang menggunakan horn section. Ditambah suara gitar klasik, jadi kayak denger band Amerika Latin.


Kesimpulan

Ini adalah sebuah album yang cukup inovatif dan menyegarkan dari Superman Is Dead, dengan menampilkan nuansa yang berbeda dalam setiap lagunya. Ada rockabilly, punk (of course), metal, musik tradisional Bali, dll, yang kesemuanya diramu apik menjadi karya klasik yang layak dikoleksi. Wah, jadi pengen punya album2 SID yang lainnya nih…beliin donk??

Labels:

Sunday, April 05, 2009

The Tarix Jabrix: No Sex, No Drugs, just good old Rock N Roll!

Ini artikel sebenernya udah lama gue tulis, tapi entah kenapa blom gue publish2. Jadi mohon maaf nih kalo rada basi, secara film The Tarix Jabrix udah ga diputer di bioskop lagi. Ya sudahlah, inilah dia....

The Tarix Jabrix, film yang merupakan debutan bagi para personil The Changcuters ini mempunyai tema yang cukup segar, soal kehidupan geng motor di Bandung. Tentu saja ini bukan film action, tapi sarat dengan humor abseurd (sengaja ditulis “abseurd” bukannya “absurd” karena merujuk kepada keanehan lawakan ala Bandung dan sekitarnyah).

The Tarix Jabrix menceritakan kisah sebuah geng motor bernama “Tarix Jabrix” yang bertujuan untuk membela kebenaran seperti superhero, atau lebih tepatnya:Superman bermotor! Jelas berbeda dengan geng motor kebanyakan yang bertindak kriminil sehingga meresahkan masyarakat. Motornya pun tidak seragam, walaupun semuanya motor tua yang butut. Dalam perjalannya, mereka bersinggungan dengan geng motor “The Smokers” yang beranggotakan anak-anak orang kaya dengan motor yang jauh lebih canggih.


Secara mengejutkan, akting anak-anak The Changcuters cukup prima. Triya membawakan karakter Cacing, sang pemimpin geng dengan mantap. Gerak-geriknya plek ketiplek ama Ace Ventura. Sumpah, bikin ngakak. Belum lagi 2 orang kembar, Chiko dan Coki yang sama-sama punya perilaku aneh nggak jelas. Mereka mencuri perhatian dengan beradegan nggak penting. Contoh: waktu Cacing lagi berusaha meyakinkan teman-temannya untuk membentuk geng motor, Chiko dan Coki malah ngumpet ke dalam tong(!). Mulder alias Mulyana Drajat (Dipa) adalah anak orang kaya yang ga boleh naik motor sama orang tuanya, tapi nekat minjem motor sopirnya. Anggota yang paling emosional ini pernah tinggal lama di Medan, dan zadilah ia berlogat Batak, bah! Anggota terakhir adalah Dadang (Erick), seorang montir jenius yang sayangnya mengidap penyakit amnesia, jadi kejeniusannya tidak banyak terpakai. Nah lho!

Menjadi fans The Changcuters sangat memudahkan untuk mencintai The Tarix Jabrix. Belum lagi ilustrasi musiknya yang didominasi oleh lagu-lagu ngerock dari The Changcuters, pasti sangat memuaskan (bagi yang doyan). Sinematografi memang bukan keunggulan dari film ini, cerita juga bukan, tapi apa donk? Mungkin seperti lagu Apa-apanya Donk dari Euis Darliah, kekuatannya justru di kesederhanaannya. Klise? Tonton aja ndiri. Taaarik jabriiik!!!





Labels:

Wednesday, March 18, 2009

Mad about Mad Men

Apa sih yang bikin serial Mad Men begitu nyandu hingga gue menamatkan Season 1 hanya dalam 3 malam? Apa karena ceritanya seputar dunia periklanan yang adalah kehidupan gue juga? Apa karena ide-ide kampanyenya keren-keren dan beberapa bisa gue colong? Apa karena aktrisnya yang kece-kece dan semlohai? Apa karena serial itu mengandung unsur subliminal advertising? Ya, ya, semua elemen tersebut turut berkontribusi, tapi yang menjadi magnet paling kuat adalah settingnya, yaitu Amerika di tahun 1960-an.

Seperti yang you-you tau, udah banyak film/serial TV yang berlatar belakang dunia periklanan. Tapi (setau gue) blom ada yang mengambil setting Amerika (New York) tahun 1960-an - yang buat mereka yang terlibat di iklan - adalah masa keemasan periklanan dan New York menjadi pusatnya, terutama di jalan Madison Avenue. (Judul "Mad Men" selain berarti "orang gila", adalah kependekan dari "MADison avenue Men". Jenius.)

Di tahun 1960-an, Amerika sedang makmur-makmurnya, sebagai puncak dari pembangunan ekonomi selepas kehancuran di Perang Dunia II. Dan tentu saja, ekonomi yang bergairah adalah lahan subur bagi periklanan. Ditambah lagi, terjadi pergeseran cara pandang secara menyeluruh di masyarakat dari konservatif ke arah yang lebih liberal. Penandanya adalah kejayaan Partai Demokrat dan perubahan di dunia seni yang lebih bebas. Bahkan Rock N Roll pun mencapai kejayaannya di masa ini.

Di dunia iklan sendiri, sedang terjadi revolusi besar-besaran. DDB yang dimotori Bill Bernbach memaksimalkan kreatifitas timnya dengan membuat sistem kerjasama yang setara antara art director dan copywriter untuk menyatukan kekuatan dua cara berpikir, visual dan verbal. Sebelumnya, yang memegang kendali adalah copywriter sedangkan art director menjadi tukang untuk menjadikan iklan tersebut kelihatan "cantik". Kerjasama yang intens antara seni visual dan sastra pada akhirnya membuat karya iklan yang kuat secara konsep, insightful (manusiawi), kreatif, dan tentu saja lebih menjual, tanpa harus melacur (hard sell).

Okeh...kembali serial Mad Men. Serial TV yang menyabet Golden Globe Award 2008 dan 2009 untuk kategori Drama ini berputar di sekitar kehidupan Don Draper, seorang creative director di agency Sterling Cooper. Ia mempunyai masa lalu yang kelam dan kemudian menjadikannya pribadi yang tertutup tapi pintar mengamati perilaku manusia sehingga bisa dengan mudah menghasilkan konsep iklan yang dekat dengan kehidupan targetnya. (Kalo istilah iklannya, insightful). Plus, ia sangat persuasif dalam presentasi dengan klien sehingga bisa meyakinkan mereka yang tadinya ragu-ragu. Maka nggak heran kalo kariernya makin melejit.

Para pemeran pendukung Mad Men juga nggak kalah menarik. Ada Salvatore-art director keturunan Italia yang juga seorang gay in the closet, Paul Kinsey-copywriter yang bermulut ember, Peggy Olson- sekretaris yang bertransformasi jadi copywriter, Pete Campbell-account executive yang super ambisius, Ken Cosgrove-accont executive yang ternyata jago nulis dan dicemburui rekan-rekan kerjanya, Joan-kepala sekretaris yang super duper sexy, Roger Sterling-owner yang udah berumur tapi doyan main perempuan, Bertram Cooper-owner yang tergila-gila dengan kebudayaan Jepang, dll.

Walaupun kelihatan berberapa hal dibesar-besarkan (gue baru kali ini ngeliat meeting tim kreatif yang super singkat), serial ini cukup akurat dan masuk akal. Bahkan, beberapa karya iklannya benar-benar bagus dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Wardrobe, setting, sinematografi, musik, semuanya nyaris tanpa cela dalam menampilkan suasana di tahun 1960-an.

Buat yang awam dengan dunia iklan, serial ini tetep menarik. Sama aja kayak lo nonton Grey's Anatomy atau LA Law (jadul banget) yang berlatar belakang profesi. Kita akan semakin paham dengan lingkup kerja dan pergaulan mereka yang dinamis. Buat para insan periklanan, Mad Men pasti bisa bikin tergila-gila dan menjadi tolak ukur dalam membuat karya iklan. Sarat dengan dialog cerdas dan inspirasi untuk membuat iklan yang lebih baik. Come on, masa generasi milleniun kalah sama opa2 di tahun jebot?

Labels:

Monday, January 12, 2009

Tomorrow People Ensemble Rocks Cafe Au Lait

Nggak ada yang bisa membantah statement bahwa Tomorrow People Ensemble (TPE) adalah band paling berbakat se-Indonesia. Kalo yang paling terkenal? Itu lain cerita. Apalagi dibandingkan dengan Peterpan, ST12 atau (here goes)...Kangen Band. TPE ga ada apa-apanya sama mereka dalam hal popularitas. Setidaknya itu anggapan gue sebelum nonton konser TPE di Cafe Au Lait Cikini hari Jumat, 9 Januari 2009. Woooow, begitu nyampe ternyata ratusan penonton udah membludak. Kali ini TPE benar-benar seperti rockstar.

Cafe Au Lait yang ukurannya cuma seuprit itu kayak mau meledak karena gak kuat nampung penonton yang meluber ampe ke Jalan Cikini Raya. Konser pertama TPE setelah hampir 3 tahun vakum ini emang cukup meriah. Terlihat di antara penonton beberapa musisiJazz, seperti Indra Aziz, terus orang-orang dari Warta Jazz, dan ga ketinggalan dari kalangan artis muda berbakat: personil band Alexa, White Shoes and the Couples Company, Rekti dari The Sigit, Bemby Gusti dari Sore, dan orang-orang keren dan beken lainnya yang gue ga kenal. (Berarti kurang beken, donk?). Oya, di sana ga sengaja ketemu temen kantor, yaitu Redy dan bininya. Gue sendiri dateng bareng bassis (additional) gue, Fiki. Bonni, vokalis band gue, Bonni cs - menyusul dengan rekannya, artis rap bernama Yari. Kosan mereka emang cuma beberapa blok dari Cafe Au Lait. (Penting ga sih??).

Pukul 21.00, Nikita Dompas sang gitaris mengeluarkan "sabetan maut-nya menandakan pertunjukan telah dimulai. Indra Perkasa (double bass), Adra Karim (Keyboards), dan Elfa Zulham (drums) ikut nyemplung ke alam "nge-jam" tanpa ragu-ragu. Karena emang band ngejam, j
adi wajar aja kalo komposisi lagunya panjang-panjang. Tetep menarik bagi gue karena permainan setiap personil sangat variatif. Apalagi live begini, bisa ngeliat aksi mereka berimprovisasi dengan liar. Ini baru Rockin' Jazz!

Baru kira-kira 2 lagu, Bonni dan Yari yang dari awal udah resah (mungkin karena ga dapet tempat duduk ditambah musiknya yang cukup "berat"), akhirnya memutuskan untuk pulang. Ok, goodbye to you! Gue dan Fiki akhirnya dapet tempat duduk di belakang bareng Redy dan bininya. Gue menikmati tiap detik dari suguhan kelas atas ini. Suasana Cafe Au Lait yang "jadoel punya" ini pun sesuai dengan musik TPE yang modern tapi gak melupakan masa lalu. TPE tampil total malam itu, membayar "dosa" atas nihilnya pentas musik berkualitas selama mereka vakum.

Pukul 11 temen gue Fiki ngajak cabut. Ya udah, kita akhirnya permisi dari Cafe Au Lait. Kebetulan Redy juga mau udahan. Sayang juga sih ga ngeliat sampe abis, karena kabarnya di akhir acara mereka ngebawain theme song Mario Bros. Well bagaimanapun, puas juga nonton mereka selama hampir dua jam. Setidaknya cukuplah buat mengobati kerinduan. Tapi tetep..gue ga sabar nungguin album yang katanya lagi digarap. Good luck guys, keep rockin'! Kelian adalah
antitesis dari industri musik Indonesia yang makin monoton.


(Foto digrab dengan sembarangan dari You Tube :D)


Check out their performance at You Tube (diambil oleh Indra Aziz):
http://www.youtube.com/watch?v=ZHpvjyPAU4A
http://www.youtube.com/watch?v=e9I6GHRX_Cw&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=4eez9pI8cHc&feature=related

www.myspace.com/tpensemble

Labels: