Sunday, November 15, 2009

Jakarta Bergoncang Lagi!

Tanggal 14 November kemaren, Jakarta kembali bergoncang. Bukan karena gempa, tapi akibat ulah band Post-Punk asal Glasgow: Franz Ferdinand! Mereka tampil memukau sehingga seluruh Ancol berjoget seliar-liarnya. Konon efek goncangan terdengar sampai benua Amerika. Dan beruntung sekali gue bisa hadir sebagai saksi :P.

Franz Ferdinand tampil di Playground Festival 2009, Pantai Carnaval, Ancol. Festival yang mengkhususkan diri pada genre dance music ini juga menampilkan Chicane, Mixhell–beranggotakan Igor Cavalera (ex-Sepultura) dan istri, Peter Hook–bassisnya New Order yang nge-DJ lagu2 New Order dan Joy Division, Agrikulture, C.U.T.S, The Sigit dan banyak sekali DJ2 yang gue ga familiar.

Demi mendapatkan tempat yang layak, gue udah mantengin bagian depan panggung sejak Agrikulture manggung. Mereka cukup menghibur, dengan musisi yang solid dan vokalis yang sebenernya kurang solid, tapi gaya slebornya justru memberi nilai hiburan tersendiri.

Setelah Agrikulture dengan kompornya yang makin meleduk, tampil DJ Remy Irwan. Waduh, kasihan banget nih DJ. Gue ga ngerti apa musiknya yang kurang OK atau menyimpan energi, para penonton ga ada yang bergoyang. Kayaknya sih mereka emang nungguin Franz Ferdinand yang manggung abis DJ ini. Di sela2 permainannya, para kru Franz Ferdinand menyiapkan alat2 band yang cukup unik. Ada drum fiberglass (transparan) punya Paul Thomson, lalu ada synthesizer Moog, dan yang paling menarik 2 buah amplifier segede bagong bertuliskan “Franz Ferdinand” dalam huruf Fraktur, yang sering diasosikan dengan Jerman. Atau dalam hal ini Austria.

Untung saja DJ Remy cuma main setengah jam. Setelah itu, sang MC langsung memperkenalkan performer berikutnya dan mungkin yang terbesar di acara ini, yaitu Franz Ferdinand! Keempat personil itu muncul langsung disambut meriah penonton. Vokalis/gitaris Alex Kopranos yang sedikit berkumis nampak semakin ceking dengan kemeja kotak2 yang dimasukin, senada dengan gitaris Nick McCarthy. Thomson tampil cuek berkaos dan bassis Bob Hardy berkostum gelap adalah satu2 nya anggota yang sedikit gempal. Keempat pria asal Glasgow itu tanpa ba-bi-bu langsung menggebrak dengan lagu “Michael” yang energik. Satu Playground pun bergoyang.

Franz Ferdinand sangat memanjakan penontonnya dengan memainkan nomor2 hits, seperti “Darts of Pleasure”, “Do You Want To”, “Tell Her Tonight”, “This Fire”, “The Dark of The Matinee”, “Turn It On”, “Ulysses”, “No You Girls”, “Can’t Stop Feeling” dan tentu saja “Take Me Out” yang makin beken lewat acara jodoh di TV. Ada juga nomor syahdu “Walk Away” yang merupakan nomor favorit gue dari album “You Could Have It So Much Better”.

Permainan gitar Alex sebenernya ga bersih2 amat, tapi terobati oleh atraksinya yang menghibur. Sesekali ia naik ke atas amplifier atau memainkan gitar di balik kepalanya seperti Jimi Hendrix. Vokalnya pun average aja, masih lebih bagus di rekaman. Nick McCarthy mem-backup dengan kocokan gitarnya yang atraktif. Kadang2 ia beralih peran memainkan synthesizer. Paul Thomson tampil penuh tenaga di balik drumsetnya yang minimalis. Gue cukup terkejut dengan ukuran cymbalnya yang kecil2. Suara snare drumnya mirip sekali dengan di rekaman. Keren! Tapi juaranya tentu saja sang bassis, Bob Hardy, yang tanpa letih mengajak orang berdansa lewat cabikan basnya yang melodius. Dia satu2nya personil yang ga ikutan backing vocal, agaknya supaya bisa konsentrasi main bass yang lumayan ribet.

Para penonton cukup responsif terhadap Franz Ferdinand. Sepanjang lagu mereka berjoget dan bernyanyi. Bola2 pantai raksasa yang digelimpangkan oleh Surya Slims awal2 cukup menyenangkan, tapi lama2 mengganggu juga. Overall, penonton enjoy semua. Termasuk gue, tentunya.

Setelah lewat 1 jam, Franz Ferdinand sok2an mau udahan. Tentu saja ini memancing penonton untuk berteriak “we want more”. Sedikit jeda, personil Franz Ferdinand muncul kembali. “You want more songs?” Alex Kopranos bertanya retorik. Penonton terpaksa menjawab iya daripada hal2 yang tak diinginkan terjadi.

Joget pun berlanjut! Kalo tadi disuguhkan lagu2 hits, di segmen terakhir ini Franz Ferdinand lebih adventurous. 40ft sempet dibawain yang membawa nuansa tenang, kemudian ada “What She Came For” dari album “Tonight”, yang berlirik kocak. Kemudian nomor terakhir adalah “Lucid Dreams”, juga dari album “Tonight”. Namun kali ini, nomor tersebut dibawakan dalam versi super extended. Bagian tengah lagu yang diwarnai oleh sampling dimanfaatkan untuk ngejam. Bahkan kemudian ada sesi perkusi, di mana para personil menggebuk drum, cymbal, drum elektrik, dll. membantu tabuhan Paul Thomson. Dengan sampling yang terus dimainkan, satu persatu personil menghilang sampai tinggal menyisakan Paul yang memukul drumnya seolah robot. Ya, kurang lebih 15 menit barulah kegilaan itu selesai disambut aplaus meriah dari seisi Playground.

Kudos buat penyelenggara yang bisa mendatangkan Franz Ferdinand dan artis2 top lainnya. Event ini pun berjalan aman, tenteram, damai, gemah ripah loh jinawi.

Friday, September 25, 2009

Khuruksetra: Noise Annoys


Curiosity kills the cat. Dalam kasus gue, curiosity kills my faith on Noise Rock. Ya, gue blon pernah ngeliat konser Noise Rock sebelumnya, kecuali Sonic Youth. Mereka pun ga sepenuhnya noise, masih ada lagunya lah. Nah ini kemaren gue diajak ngeliat band experimental noise. Nah lo. Sebenernya udah kebayang sih kayak gimana. Pasti banyak sound2 monoton dengan berbagai macam feedback.

Nama bandnya adalah Khuruksetra. Mereka anak2 muda Indonesia yang kuliah di Australia. Pada tanggal 12 September 2009 yang lalu, Khuruksetra menggelar konser yang bertajuk ‘Bliss, Plague, Damnation’ di Theater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ini adalah kesempatan langka untuk ngeliat band yang mengaku bisa menghidupkan kembali suasana perang Mahabharata. Aroma Jawa kuno yang eksotis cukup mendorong gue untuk mengiyakan ajakan seorang teman. Bahkan gue pun pake kaos bergambar “Werkudara” bikinan Mirota Batik.


Konser dibuka dengan pemandangan gelap gulita. Panggung ditutup kain2 yg dibentangkan menutup pandangan. Lalu dimulailah suara drone, noise, whatever you wanna call it. Diselingi juga dengan suara teriakan, rintihan, dan mantra2 Jawa, sepertinya. Cukup membuat bergidik. Tapi sound yang digital itu somehow bikin berkurang nuansa mistiknya. Alangkah baiknya kalo ditambah gamelan atau aroma kemenyan, gitu. Tapi ah, mungkin itu terlalu harfiah.


Setelah sekian lama dihujani kekelaman monotisme ala noise band, sesosok figur menjatuhkan kain2 yang menjuntai itu. Sehingga kelihatanlah para personil band Khuruksetra. Yang jatoh2in kain itu selain nyanyi juga main drum, sambil berkeliaran kesana kemari seperti orang gila dan meracau ga jelas. Yg lain ngebas, main gitar, dan ada juga yg nge-DJ. Terlihat pemain bass menggesekkan golok ke instrumennya dan menghasilkan suara yang…biasa2 aja, tuh!


Ada juga kemunculan anak kecil dan sosok wanita yang memakai caping. Rasanya jadi kayak ngeliat film The Ring atau film horor Jepang lainnya. Di layar proyektor belakang tampak wajah wanita bersimbah darah. Oke, serem…


Secara keseluruhan penampilan Khuruksetra ngga jauh berbeda dengan happening art mahasiswa seni atau demo jalanan yang sering gue lihat. Hanya saja pertunjukan ini digelar dengan lebih matang dan dengan peralatan yang lebih canggih (dan bayar 50ribu, bo!). Nuansa pretentious (cieeeh) dari performa mereka sangat bisa gue tangkap. Oh ya…keren….mantap…artistik banget…dalem, gila!...(sambil menguap).

Mandi Kambing di Hadramout

Gara2 sebuah review di milis Jalansutra, gue dan geng makan2 penasaran bukan kepalang ingin menyicipi kambing di Hadramout Restaurant. Ini adalah restaurant Arab yang terkenal dengan menu “Mandi Kambing”, yaitu 1 set menu yang terdiri dari ¼ kambing panggang dilengkapi nasi (seperti kebuli) dan sop.

Waktu eksekusi emang agak mengkhawatirkan, yaitu hari Jumat dan saat bulan puasa. Maka kita memutuskan untuk memesan tempat dulu daripada pulang dengan perut hampa. Benar saja, menjelang saat yang dinantikan, jalanan menuju ke Jl. Tambak macet abis. Jadi terpaksa kita berbuka di jalan. Untung salah satu personil berinisiatif untuk membeli minuman dan sedikit roti untuk mengganjal perut.

Kami jalan dari kantor di Pancoran melewati Jl. Sahardjo, kemudian di Manggarai belok kanan ke arah pintu air. Memasuki jalan Tambak, di sebelah kiri jalan keliatanlah itu plang kuning bertuliskan “Hadramout Restaurant”. Karena parkiran di depannya udah penuh, mobil pun ditaro di Rumah Sakit Tambak, persis di sebelahnya.

Memasuki restaurant, kesannya wow…Arab sekali. Kita duduk lesehan dengan dekorasi yang Arab abes. Bahkan korannya pun berbahasa Arab (kayak ngerti aja kite).

Pertama kali datanglah sop yang isinya cuma kuah doang. Wah, agak mengecewakan nih. Walaupun rasanya enak, tapi di review Jalansutra disebutkan sop itu berisi sumsum dan daging. Tapi what de heck, gue sruput juga tuh ampe abis.

Tak lama, datanglah menu utama, Mandi Kambing. Potongan2 kambing lengkap dengan tulangnya tergeletak di antara berjibunnya nasi lezat. Ternyata review tersebut nggak meleset. Kambingnya sama sekali ga bau prengus dan luar biasa lembut. Enak banget. Nasinya pun sesuai dengan namanya, lezat. Aroma cengkeh dan bumbu2 lain-secara mengejutkan-gak terlalu menyengat. Mild, lah. Nasinya lumayan bikin kenyang. Tapi tetep, kambing itu juaranya. Sepertinya yang dipake adalah kambing muda. Atau kambing tua tapi kerjaannya males2 doang selama hidup…haha.

Kami tak lupa memesan Mint Tea untuk menyegarkan suasana. Mantap rasanya. Kelar mandi kambing, kami menunggu-nunggu kepala kambing yang ditulis di review. Ternyata setelah dicek, kepala kambing itu diberikan kalo masih tersedia. Jadi karena yang dateng rame, jadi kita ga kebagian.

Mandi Kambing yang emang bikin kenyang itu bikin kita leyeh2 dulu di lesehan karena lemez. Efek sampingnya emang jadi males ngapa2in. Mungkinkah kita telah berada di surga? Setelah sadar kita pun bergegas pulang. Ya, sodara2, acara makan kali ini termasuk sukses. Geng makan2 pun pulang dengan perut kenyang dan hati riang. Tapi awas, kami akan kembali untuk kepala kambing…mbeeek...

Hadramout Restaurant
Tambak Raya No. 16A
Jakarta Pusat
Telp: (021) 392-8148

Do You Remember Ramones' End Of The Century?


Dalam kehidupan, ada saatnya kita merasa rancu antara berperilaku konsisten dan monoton. Menjadi pribadi yang konsisten tentu sesuatu yang terpuji, tapi kalau tidak berhati-hati bisa terjerumus menjadi monoton dan membosankan. Rileks guys, gue ga lagi mengambil lahannya Mario Teguh. Ini lagi ngomongin Ramones dan albumnya klasiknya, ‘End Of The Century’ yang diproduseri Phil Spector di tahun 1980.

Semua orang waras tahulah dengan Ramones. Band pelopor Punk Rock ini punya karakter yang jelas, atau meminjam istilah di atas, konsisten. Vokal, gitar, bass, drum, semuanya datar. Ga ada solo gitar, vokal ber-vibra, atau beat2 aneh. Semua instrumen bermain simple dan rata2 kelar dalam waktu kurang dari 3 menit. Musik Ramones adalah intisari dari Rock N Roll yang ga neko2. Kemunculannya di akhir tahun 1970an menjadi antitesis musik Art Rock yang njelimet. Dari segi penampilan pun mereka ga kalah konsisten. Setelan jaket kulit hitam, sepatu kets dan jeans belel adalah trademarknya. (Yes boys, The Changcuters bukan pelopor band berseragam :P).


Sifat konsisten Ramones patut diacungi jempol. Tapi seperti pekerjaan nine to five, eneg juga kan kalo semuanya udah terpola? Nah…ini yang dilakukan Ramones dengan album ‘End Of The Century’. Agaknya mereka butuh variasi dari segala kekonsistenannya. Kebetulan sekali, Phil Spector, seorang produser musik yang menggarap album ‘Let It Be’-nya The Beatles, ternyata nge-fans ama Ramones dan menawarkan diri untuk bekerja sama. Ramones pun mendapatkan the best and the worst dari Phil Spector.


The best-nya? Tentu saja Ramones mendapat album klasik Rock ‘N’ Roll yang fenomenal, eksperimental, dan dipuji para kritikus musik (Bahkan oleh Kurt Loader). The worst-nya adalah Ramones harus beradaptasi dengan berbagai keanehan Phil Spector . Diceritakan bahwa Ramones dipaksa bermain ber-jam2 dan nggak direkam. Menurut Phil, sebuah band akan bermain lebih bagus setelah kecapean, jadi mainnya lebih nyatu, ngga ada ego. (Gue rasa bukan ego yang abis, badan juga ringsek!). Trus ada kisah Phil nodong senjata ke Dee Dee Ramone saat berada di rumahnya. Belum lagi ketidakpuasan Phil atas hasil mixingnya sendiri yang ia ganti ratusan kali.


Teknik2 recording Mr. Spector yang melegenda diterapkan di album 'End Of The Century'. Buat yang beli CD remastered keluaran Warner Archives/Rhino tahun 2002, bisa membandingkan hasil mixing Phil Spector dengan versi demonya yang polos (ada 6 bonus track. Highly recommended!).

Album dibuka dengan ‘Do You Remember Rock ‘N’ Roll Radio?’, sebuah komposisi yang mengeset mood keseluruhan album ini. Isinya puja-puji tentang musik Rock ‘N’ Roll yang mulai dilupakan generasi akhir ‘70an. Ambiance dan horn section garapan Phil Spector membuat track ini luar biasa antik.


Di lagu berikutnya,’ I’m Affected’, Phil menambahkan efek echo pada drum dan vokal. Over-produced? Surprisingly, not! Gue yang ga suka efek macem2 dalam rekaman alias penganut faham naturalis, jadi berpikir lagi untuk menerapkan berbagai macam efek (seperti echo) pada band gue sendiri. Perhatikan pula bagian solo gitarnya yang mendayu-dayu….mantap, gan! (Solo gitar ini ga ada di versi demonya).

Track ketiga, ‘Danny Says’, adalah salah satu nomor balada yang paling cantik dari Ramones. Petikan gitarnya itu…mana tahaaan! Phil Spector & Ramones really nailed this one!

Nggak banyak eksperimen di lagu ‘Chinese Rock’,’ The Return of Jackie And Judy’, dan ‘Let’s Go’, yang ngerock. Di sini lebih berasa Ramones dalam “kesehariannya”. Yang sedikit stand out mungkin fill tom2 di tengah2 lagu ‘Let’s Go’.

Nah, track berikutnya adalah lagu yang mengundang kontroversi. ‘Baby I Love You’, sebuah lagu pop milik The Ronettes, grup vokal cewe yang sempat diproduseri Phil Spector, di-cover tanpa malu2 oleh Ramones. Nuansa pop yang kental membuat lagu ini begitu dibenci fans hardcore Ramones. Bahkan Dee Dee dan Johnny Ramone pun mengaku menyesal telah membawakannya. Kalo pendapat gue? Asik2 aja tuh…! Maksud gue, ini kan dalam nuansa bereksperimen, jadi wajar2 aja tokh kalo bawain lagu girls band dengan semanis mungkin?

‘I Can’t Make It On Time’ adalah track standar Ramones. Efek drum ber-echo kembali muncul di track ‘This Aint Havana’ yang berlirik kocak. Berikutnya, ‘Rock N Roll High School’, sebuah nomor yang setipe dengan ‘Do You Remember Rock ‘N’ Roll Radio?’ hanya dengan lebih sedikit efek. Sebuah nomor hits lagi.

Track berikutnya, ‘All The Way’, kembali ngerock. Ada sedikit background vocal terdengar. Lagu terakhir, ‘High Risk Insurance’ adalah tipikal Ramones.

Ramones dengan ‘End Of The Century’-nya membuktikan bahwa ga ada salahnya untuk sedikit keluar dari sifat konsisten. “Permainan” ini memberi penyegaran buat Ramones dan juga fansnya. Ya, album ini memang kontroversial. Kata Joey Ramone, "You either loved it or hated it". Fans2 fanatik mengejeknya karena menurut mereka soundnya terlalu Top 40. Ah, gue rasa ini terlalu mengada2. Satu2nya track yang mengingkari jati diri Ramones adalah ‘Baby I Love You’, itu pun lagu tribute buat The Ronettes. Selebihnya adalah kolaborasi manis antara dua kubu jenius, Ramones dan Phil Spector.

Sunday, August 30, 2009

District 9: Alien Juga Manusia

District 9, yang diproduseri oleh Peter Jackson (Lord of the Ring, King Kong) tampil berbeda dibandingkan film2 science fiction kebanyakan. Sutradara Neill Blomkamp mengambil suasana senatural mungkin layaknya film dokumenter. Sehingga film ini lebih mirip The Blair Witch Project daripada ID4.

Alien2 ditampilkan dengan menjijikkan, rapuh, dan tak berbudaya. Tapi apakah berarti mereka jahat? Ternyata tidak. Dari luar memang menyeramkan, tapi para manusia terbukti lebih jahat. Alien2 itu ditampung dalam District 9, sebuah camp yang tidak layak, bahkan akan dipindahkan lagi ke District 10 yang lebih kumuh. Beberapa dari mereka dijadikan kelinci percobaan oleh para ilmuwan.

Tokoh utama dalam film ini adalah Wikus Van De Merwe (Sharlto Copley), seorang peneliti alien senior di MNU (Multinational United), sebuah lembaga bertugas yang mengurusi alien. Wikus yang berperilaku jujur dan sederhana ini cukup paham dengan perilaku alien yang sudah hadir selama 10 tahun di Johannesburg. Ya, alien2 ini tiba2 muncul di kota Afrika Selatan itu dengan pesawat luar angkasa yang mengalami kerusakan mesin dan mengambang begitu saja di atas kota. Alien2 yang ternyata kekurangan gizi itu kemudian ditampung di District 9.


Dalam kontaknya dengan alien, Wikus terinsfeksi virus yang menyebabkan ia dikejar2 pemerintahan untuk diteliti. Satu2nya yang bisa menyembuhkannya adalah seorang alien bernama Christopher Johnson yang tinggal bersama seorang anaknya. Mereka tulus ingin membantu, namun Wikus yang tidak sabaran belakangan mengkhianati mereka. Di sini terlihat sekali alien yang menjijikkan itu tampak lebih manusiawi dari para manusia yang penuh kelicikan.


Gue perlu memberi sedikit peringatan sebelum nonton film ini. Karena mengejar gambar sealami mungkin, di sini banyak digunakan kamera handheld, yang mengakibatkan rasa mual bagi yang lagi kurang enak badan (Ini dialami 2 orang temen gue yang nonton bareng!). Makanya, kalo perlu minum Antimo dulu. Kemudian teman gue juga berkomentar, karena lightingnya terang semua, jadi ga bisa fokus ngeliatin yang mana, semua flat.


Tips dari gue adalah, berusahalah nikmati film ini apa adanya. Ini memang bukan film yang indah. Ini adalah film dokumenter di kala alien hidup di sekeliling kita dengan segala permasalahannya. Kalo bisa menerima itu semua, gue rasa lo ga akan terganggu dan bisa mengikuti tiap frame dengan baik. Ini adalah salah satu film terbaik di tahun 2009. Selamat menonton!

Sunday, August 23, 2009

Java Rocking Land: Teror Rock yang Cadas

Selamat datang kembali di review yang super telat…ha…ha…ha! Maaf pembaca yang budiman, gue baru sempet nulis lagi setelah minggu2 kemaren ga punya energi karena atit. Ya, aku atit ladang tenggolokan…uhuk…uhuk...

Bicara soal Java Rocking Land yang berlangsung pada 8, 9, 10 Agustus di Pantai Carnaval, Ancol, mau ga mau kita akan membandingkan dengan pergelaran Jakarta Rock Parade, tanggal 11-13 Juli 2008. Dua event ini kurang lebih berkonsep sama: menampilkan band2 rock lokal dan mancanegara dalam 3 hari. Bedanya apa? Penyelenggara dan sponsor. Ternyata 2 hal itu mampu membuat ketimpangan yang cukup jauh. Java Rocking Land yang digawangi Java Musikindo-yang khatam dengan Java Jazz dan ribuan konser lainnya- emang terlihat lebih matang dibandingkan penyelenggara Jakarta Rock Parade. Ditambah lagi, Gudang Garam sebagai sponsor utama Java Rocking Land cukup jor-joran dalam mendukung acara ini. Bayangkan, panggungnya aja a
da 8, gimana ga puyeng? Blom lagi stand2 makanan, merchandise, lomba2, tempat foto, dll. Pokoknya Pantai Carnaval diset kayak Dufan versi Rock N Roll!

Jakarta Rock Parade sendiri tanpa sponsor besar (baca: rokok) dan hanya mengandalkan kemitraan antar media massa. Senang juga melihat panggung yang bebas dari spanduk rokok, tapi itu harus dibayar dengan jumlah pengunjung yang sedikit. Sementara dengan promosi yang besar, Java Rocking Land bukan cuma berhasil menarik para rockers, tapi cukup banyak ABG2 mall yang dateng (mungkin) bukan karena musiknya tapi sekedar mencari keramaian. Kalo udah begini, wajar kalo Ancol jadi penuh sesak. Markir mobil jadi pekerjaan yang melelahkan, blom lagi antrian waktu bubaran. Semuanya tumpah ruah…


Sebenernya ingin sekali mengeksplor seluruh isi Java Rocking Land, tapi berhubung gue lagi ga fit jadinya lebih banyak nongkrong di panggung GG Dome yang adem. Di sana gue menyaksikan untuk pertama kali Bite live! Gaya Rebecca atraktif sekali di atas panggung. Sayang, lagu favorit gue, "Semua Suka Wanita cantik" nggak dibawain.

Di panggung yang disponsori oleh MRA g
roup ini, konsepnya emang Old & New. Bite mewakili band yang "new", dan yang jadi band "a blast from the past" adalah…ROXX! Hell yeagh….band cadas yang dimotori oleh Trison ini emang luar biasa melegenda di kalangan headbangers.

Roxx memuaskan kerinduan fansnya dengan membawakan nomor2 lawas, seperti “Penguasa” dan “5cm”. Publik yang terkena euforia ini menggila sehingga di tengah2 lagu “Rock Menggema” gue sempat terjatuh kedorong orang2 yang lagi moshing. Padahal waktu itu gue lagi asik nyuting.

Setelah jeda beberapa menit, GG Dome kembali disesaki oleh pengunjung yang ingin menyaksikan Pure Saturday, band indie legendaris asal Bandung. Gue cuma nonton bentaran karena ga lama lagi Mr.Big bakal main di panggung utama.


Mr.Big yang tampil dengan personil asli ini (Paul Gilbert balik lagi) tampil sangat memuaskan. Walaupun udah pada opa2, tapi staminanya masih hebat dan skillnya sama sakali ga kendor. Billy Sheehan dan Paul Gilbert berkali2 melakukan solo bass dan gitar. Sayang, Pat Torpey nggak ikutan solo. Mungkin ia perlu stamina yang ekstra banget bwat solo drum. Walaupun begitu, gebukannya di setiap lagu masih fasih dan bertenaga. Mr. Big manggung selama 1,5 jam dengan kombinasi musik cadas dan pop. Tentu publik Indonesia menyambut antusias nomor2 balada, seperti "Just Take My Heart", "Wild World", dan "To Be With You". Dukungan sound system yang prima membuat konser ini ekstra memuaskan.

Java Rocking Land adalah sebuah event rock yang sukses. Sekaligus membuktikan pada dunia bahwa Indonesia (Jakarta, terutama) masih aman dari ancaman teror. Sebuah pelajaran pula bahwa untuk membuat event rock yang besar memerlukan sponsor yang besar pula. “Jor-joran” is the key

Thursday, July 09, 2009

Bite – Segar kembali dalam 1 gigitan

Alhamdulillah, akhirnya ada juga band Indonesia yang menulis lagu sejujur-jujurnya tapi tetap berkelas. Inilah dia, Bite, yang beranggotakan Rebecca Theodora (vokal), Alexander Kaunang (Bass), Didi Lazuardi (gitar), dan Harry Kurniawan (drum). Kalo elo anak gaul underground, pasti cukup familier dengan mereka. Terutama Rebecca, mantan personil The Upstairs (vokal latar) dan Goodnight Electric (co-vokal). Dari dulu gue dah ngefans ama ini cewe. Baca aja di sini kalo gak percaya. 3 anggota lainnya adalah anggota band hardcore Fall. Nah kalo yang ini gue gak terlalu nyimak.

Dengan personil yang punya skill dan pengalaman di atas rata2, sangat menggembirakan kalo mereka mau membuat musik yang sederhana. Hasilnya relatif mudah dicerna tapi tetap unik. Coba simak lagu “Populer” yang pilihan nadanya lumayan nyentrik. Melengkapi musiknya yang ciamik, hampir dipastikan kita akan memperhatikan lirik karya Rebecca yang luar biasa to the point. Tema2-nya sebenernya remeh, tapi disajikan dengan sudut pandang yang nggak biasa. Rebecca menjadi bak feminis yang menyuarakan keresahan dengan gayanya sendiri. Dalam lagu "Semua suka Wanita Cantik", dia menulis: mudah berkata citra natural, jika semua terlahir menarik / hanya ternyata jika kau jujur, semua suka wanita cantik. Buat yang suka menghubungkan dengan band2 terdahulu, nama2 seperti Blondie atau X-Ray Spex mungkin terlintas di kepala.

Keenam lagu dalam mini album ini benar2 menjadi penyegaran di tengah cuci otak media massa dengan musik Pop Rock yang semakin jijay bajay (kecuali Mbah Surip dan Kuburan). Ehm, ada satu ganjalan sih mengenai Bite. Namanya itu, lho - ”Bite” - nggak seunik musiknya. Bahasa Inggris pula. Sudahlah, mungkin gue terlalu banyak menuntut. Oh, bite me!

http://www.myspace.com/heybite

PS: Gue dapet CDnya di Aksara Kemang setelah nggak nemu di beberapa tempat. Ayo buruan beli, sebelum kehabisan!

Monday, May 04, 2009

Mari Bu, Buku Iklannya...

Menyambung review Sex After Dugem dan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (tanggal 2 Mei kemaren, lewat dikit gpp ya?) mari kita membahas buku iklan lagi. Sebelumnya, penting ga sih baca buku iklan? Emang ga penting2 amat, jauh lebih penting baca blog ini...hahaha! Oke serius, deh. Mencontek kata2nya Luke Sullivan, lo lebih percaya mana, dibedah oleh dokter yang males baca atau dokter yang rajin meng-update dirinya dengan buku2 bedah & kedokteran? Nah...kurang lebih gitu deh sama iklan. Cuma bedanya, kalo di dunia iklan, nobody dies! Orang dengan modal sotoy bisa aja bikin iklan. Tapi bagaimana karyanya, apakah bercita rasa tinggi? Apakah bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa? Makanya, untuk menjadi ahli, kita harus rajin baca dan terus belajar. Jangan cepat puas, stay foolish, kata Steve Jobs.

Daftar buku ini disusun secara acak alias in no particular order, kecuali yang nomor wahid, "Hey Whipple Squeeze This!" karangan Luke Sullivan, sengaja gw taro pertama karena It's the bessstt!!! Bahkan tulisan ini mencontek bab terakhirnya, cuma gue tambahin beberapa...hehehe. Baik anak2, mari kita mulai pelajarannya…

1. Hey Whipple, Squeeze This! A Guide To Creating Great Ads (Luke Sullivan.John Wiley & Sons, Inc., 2003)
Ini buku dewa nih. Dibacanya enak banget karena gak menggurui dan penuh humor sehingga tanpa sadar, kita dapat ilmu yang banyak. Ditulis oleh Luke Sullivan, copywriter award-winning dari agency Fallon McElligott yang terkenal dengan kampanye "Perception/Reality" majalah Rolling Stone. Kalo lo cuma punya budget beli satu buku seumur hidup, belilah buku ini! Isi secara keseluruhan emang berasa copywriter banget (baca: banyak tulisan, sedikit gambar, dengan porsi copywriting yang lebih banyak), tapi tetep asyik dan relevan kok buat para art director. Sangat, sangat, sangat direkomendasikan. Eh, jangan minjem ke gue ya, beli ndiri!

2. Cutting Edge Advertising: How to Create the World's Best Print for Brands in the 21st Century (Jim Aitchison. Prentice Hall
, 1999)
Gue baca jaman kuliah tahun 2000an, sampai sekarang masih relevan. Berbeda dengan buku2 lain di mana penulisnya satu orang dan mempunyai satu opini pula, Jim Aitchison mengumpulkan berbagai pendapat pakar yang beragam. Jadi tinggal kita yang menyimpulkannya.
Sayangnya punya gue ilang euy….hayo, siapa yang minjem? Balikin!

3. Creative Advertising (Mario Pricken.Thames & Hudson, Ltd
, 2003)
Dibanding "Hey Whipple...", buku ini lebih boring. Tapi di sini teknik brainstormingnya lebih detail. Dan contoh2 iklannya pun oke punya. Maklum yang nulis art-based, jadi penuh gambar2 cantik. Isinya cukup tebal dan berguna untuk bikin iklan yang award-winning.

4. The Art of Advertising -
George Lois on Mass Communication oleh (George Lois & Bill Pitts. Harry N Abrams, 1977)
Ini adalah buku yang memuat karya2 salah satu tokoh kreatif favorit gue, George Lois. Dia basicnya seorang art director, tapi mempunyai kepekaan verbal yang cukup tinggi. Karya legendarisnya adalah sampul majalah Esquire bergambar Mohammad Ali berpose seperti Yesus. Figur kontroversial ini alumni DDB tahun 1960an yang kemudian mendirikan biro iklan sendiri, PKL.


5. Lanturan Tapi Relevan (Budiman Hakim. Galang Press, 2006)
Buku pertama Budiman Hakim ini ngingetin banget ama "Hey Whipple...". Gayanya sama, nyantai banget tapi penuh makna. Buku iklan Indonesia pertama yang gue salut lut lut lut…

6. Komunikasi Cinta (Djito Kasilo. Kepustakaan Populer Gramedia,
2008)
Nah, kalo Budiman cerita ngalor ngidul, Djito lebih praktis dalam memberi pelajaran. Dia bikin contoh kasus, semacam workshop kecil2an ama beberapa praktisi iklan. Jadi keliatan tuh bagaimana mendevelop sebuah kampanye iklan dari bikin strategi sampai eksekusi. Landasan teorinya adalah cinta....taela...


7. Pick Me – Breaking Into Advertising And Staying There (
Nancy Vonk & Janet Kestin. John Wiley & Sons, Inc., 2005)
"Pick Me" ditujukan buat yang baru mau atau barusan nyemplung di dunia iklan. Sebenernya, ini adalah kompilasi dari pertanyaan2 yang muncul di kolom AskJancy di "ihaveanidea.org" dikumpulkan jadi satu. Sayang banget gue baru punya pas udah lumayan lama di iklan. Kayaknya lebih berguna waktu awal2 dulu. Sigh….

8.The Book of Graphic Problem-Solving (
John Newcomb.R.R Bowker Company, 1984)
Buku jadul yang udah gue punya sejak masa kuliah dan selalu jadi pegangan waktu pertama-tama kerja. Di sini diberitahu teknik mencari ide menggunakan Bite System, yang pada dasarnya adalah cara membedah pesan komunikasi dengan sedetail mungkin. Lucunya, walaupun outputnya adalah visual, tahap awalnya melalui tulisan. Bagus nih, jadi ajang latihan nulis buat para visual-based kreatif. Contoh yang digunakan adalah membuat sampul majalah Medical Economics, tempat John Newcomb bekerja.Walau begitu, masih bisa diterapkan buat bikin iklan atau media yang lain. Mantep.

9. The Advertising Concept Book (Pete Barry.
Thames & Hudson, Ltd, 2008)
Buku penting buat bikin kampanye iklan yang terintegrasi, terutama bagi para pemula. Uniknya, karena fokusnya adalah membuat konsep, konsep dan konsep dan bukannya ngulik eksekusi, ga ada contoh iklan jadi di sana, semuanya disajikan dalam bentuk sketsa. Seperti yang ditulis di sampul bukunya, “Think now, design later”.


10. When Advertising Tried Harder
: The Sixties, the Golden Age of American Advertising (Larry Dubrow. Friendly Press, 1974)
Menyoroti revolusi kreatif periklanan Amerika di tahun 1960an. Tentu saja, porsi besar diperuntukkan bagi DDB karena karya2nya yang fenomenal pada masa itu. Gue baca waktu magang di Matari tahun 2001. Di sana, koleksi buku (jadulnya) emang bagus2. Ada yang jual ga ya, sekarang?


11. It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be (Paul Arden. Phaidon Press Limited, 2003)
Buku motivasi kontemporer buat pribadi yang kontemporer seperti anda! Isinya singkat tapi menusuk dalem. Emang ga semata-mata ngomongin iklan, tapi nyambung jugalah dengan kehidupan pembuat iklan yang tiap hari dituntut untuk menelorkan karya2 yang hebring. Paul Arden juga dulunya seorang creative director andal.

Monday, April 20, 2009

Sex After Dugem, Anyone?

Buku ini lebih berhak menyandang judul "Confessions of an Advertising Man", daripada bukunya David Ogilvy. Ogilvy lebih banyak menulis seputar teknis membuat iklan, sementara Budiman Hakim bicara jujur soal kisah hidupnya yang penuh kesablengan. Benar kata Butet Kartaredjasa di Kata Pengantar, bila ada polisi yang ngebaca ini (terutama bab soal dia nyimeng), Budiman bisa ditangkep! Anyway, David Ogilvy udah duluan nulis bukunya, jadinya Budiman harus puas dengan "Sex After Dugem". Judul yang masih relevan dengan isinya yang menohok, jujur, ngga “pretentious” seperti tulisan gue ini :P.

Sex After Dugem emang menguji ke-jaim-an kita, bahkan sebelum memiliki bukunya. Paling nggak itu yang terjadi ama gue. Ceritanya, di Gramedia, gue udah ngubek2 di bagian Periklanan dan ga nemu2 itu buku. Padahal ada buku Budiman yang lain, “Ngobrolin Iklan Yuk” dan “Lanturan Tapi Relevan” di rak yang sama. Setelah mencari cukup lama akhirnya gue nyerah, dan nanya deh ama sang penjaga. Alamak, malunya bukan main mau nyebut judul buku Sex After Dugem itu. Begini kira2 dialognya:

Gue (G): Mas mas, ada bukunya Budiman Hakim yang baru ga?
(Gue mencoba sekuat tenaga ngga menyebut judul buku itu.)

Bagian informasi (BI): Judulnya apa?

G: (keparat! gue memaki dalam hati) Nggg....Sex After Dugem?
(Ahiahahaiaiahaia...kesebut juga)

BI: Oh, ada mas. Di bagian Sosial Budaya, satu lantai lagi di atas. Udah sedia kondom blom, mas? Jaman sekarang kudu ati2 lho, kalo mau nge-sex after dugem.

(Gue pun ngeloyor dengan muka tengsin. Oke oke, tulisan yang berwarna merah itu gue tambahin)

Sesuai dengan gayanya Budiman, let’s cut the crap. Apa sih relevansi buku Sex After Dugem yang berisi hal2 remeh temeh--seperti nyimeng ampe ga bisa berhenti ketawa, kebiasaan solat injury time, sex after dugem, ditaksir homo bule, Soeharto yang ikut kuis Deal or No Deal dengan malaikat, dsb--dengan dunia iklan? Nggak ada hubungan langsung, karena ga ada teori-teori iklan mutakhir dalam buku ini. Dengan kesederhanaan dan keremeh-temehannya, Budiman mencoba membuka mata kita untuk menjadikan kehidupan sebagai sumber inspirasi yang bisa digunakan untuk membuat iklan. Kekuatan iklan yang insightful bukan dari kosmetik alias gimmick, tapi dari kesederhanaan dan kejujurannya. Begitu kira2 yang ingin disampaikan Budiman, senada dengan perkataan Bill Bernbach, “I’ve got a great gimmick. Let’s tell the truth".

Lantas, apa kita perlu sekonyol dan sebengal Budiman Hakim untuk menjadi Kreatif yang baik? Ya nggak lah. Ambil spiritnya aja dan juga cimengnya…asssoy…