Setelah Marky Ramone, satu lagi legenda Punk Rock sudi mampir ke Jakarta, yaitu Bad Religion. Band yang udah berdiri sejak 1980 di Los Angeles ini termasuk band Hardcore Punk yang paling awet.
Di Indonesia, nama Bad Religion baru beken di dekade 90-an, saat Rock Alternatif (termasuk Punk) menjadi trend. Album "Recipe For Hate" yang dirilis tahun 1993 dengan hits "American Jesus" dan "Struck A Nerve" adalah salah satu karya Punk yang wajib dikoleksi. Di tahun berikutnya, mereka juga masuk dalam kompilasi Punk-O-Rama dengan lagu "Do What You Want". Kemudian pada 1995, dirilis album kompilasi berjudul "All Ages" yang memuat lagu-lagu terbaik Bad Religion dari tahun 1982-1992. Tahun 1996, mereka hadir lagi dengan album Gray Race yang mempopulerkan "Punk Rock Song". Sayang, setelah trend alternatf memudar, album2 mereka gak dirilis lagi di Indonesia. Pokoknya Bad Religion cukup dikenal lah buat rockers di era 90-an.
Rabu, September 28, 2011
Kamis, Agustus 18, 2011
Rockvolution 2011: Gabba Gabba Hey Ho Let's Go!
Kalau elo seorang drummer, doyan Punk rock, ditambah lagi ga doyan ngerokok, alangkah anehnya kalo sampe gak nonton Rockvolution 2011. Festival Rock (Indie) yang antara lain disponsori Komnas Pengendalian Tembakau ini memboyong Marky Ramone's Blitzkrieg, band terbaru dari drummer Punk legendaris, Marky Ramone.
Jumat, Juli 22, 2011
LLW: Indra Just Wanna Have Fun
LLW (dibaca "dabel el dabel yu"), adalah proyekan terbaru Indra Lesmana bareng dua anak muda, Barry Likumahuwa (bas) dan Sandy Winarta (drum). Menurut catatan gue, ini kedua kalinya Indra Lesmana membentuk power trio jazz. Sebelumnya, Indra punya PIG yang mengikutsertakan Pra Budi Dharma dan Gilang Ramadhan. Minggu, April 10, 2011
Restoran Afrikana: Wakka Wakka Nyam Nyam....
Niat hati sih pengen makan sate afrika di Tanah Abang, tapi karena waktu nggak mencukupi, ya gue terpaksa mencari alternatif lain. Di Jalan Kemanggisan Utama, beberapa jengkal sebelum Slipi Jaya menuju Tanah Abang, mata gue tertumbuk ke sisi kiri jalan. Di antara jejeran ruko, ada plang bertuliskan "Afrikana", restoran afrika. Wah, manarik juga nih. Sebenernya agak ragu, karena dari luar bangunannya bergaya modern. Seharusnya (menurut gue) restoran Afrika lebih tradisional, berbentuk seperti jamur dan beratap ijuk. Kalau penampakannya modern, bisa jadi rasa Afrika-nya berkurang. Dan dari logonya, sepertinya ini franchise. Tapi ah, cuek aje. soalnya perut udah sulit berkompromi.
Minggu, Desember 26, 2010
Buried: Bukan Buat Yang Berhati Hollywood
Buried ini salah satu jenis film nyentrik yang bukan untuk semua orang. Kalo nonton di bioskop, pastikan penonton lain cukup beradab sehingga mereka nggak mengeluarkan suara2 sumbang yang mengganggu. Sehari sebelum gue nonton, temen gue mengalaminya. Penonton di sebelahnya berisik mengeluhkan cerita yang terlalu ajaib buat mereka. Dan esoknya, kejadian serupa pun menimpa gue. Kali ini rombongan keluarga yang duduk di atas gue. Dari awal udah berisik nggak jelas dan di ujung film ada yang nyeletuk, “Tuh kan, mendingan juga nonton Gulliver’s Travels!”Gue nggak akan memberi terlalu banyak info soal film ini karena akan merusak kenikmatan menonton. Yang jelas ini salah satu film yang berhasil menjaga ketegangan dari awal sampai akhir, selama 90 menit. Pesan dari gue cuma satu: nikmati saja ceritanya dan tentunya akting prima Ryan Reynolds.
Minggu, Mei 09, 2010
Pangkep 33: Salam 33 Jari!
Setelah membaca review Pangkep 33 di internet, gue mengalami kesulitan tidur karena terus membayangkan nikmatnya makan seafood di sana.Akhirnya, kesempatan itu tiba juga. Berawal dari kepergian gue dan bokap-nyokap ke Mangga Dua. Mereka mo beli kaos sedangkan gue nyari DVD film dan software. Tadinya, abis dari Mangdu kita mau makan siang ke restoran steak baru milik salah satu kerabat di daerah Cinere. Nah, berhubung waktu kunjungan di Mangdu yang molor ampe jam 12 lewat dan naga di perut ini udah susah berkompromi, akhirnya gue berinisiatif untuk ngajak bonyok nyobain Pangkep 33, yang lokasinya ga jauh dari Mangdu, tepatnya di Jl. Batu Ceper no.63.
Sabtu, April 24, 2010
Perahu Kertas: How Pop Can You Go?
Terus terang pertama kali gue tergerak untuk membaca Perahu Kertas - novelnya Dewi Lestari - adalah karena gue dengar ceritanya nyerempet2 dunia periklanan. Ya, gue tahu di dalamnya ada kisah cinta antara 2 tokoh, Kugy dan Keenan yang sama2 berkepribadian nyentrik. Tapi gue nggak nyangka juga kalo novel ini adalah sebuah roman sejati, lengkap dengan sengala ke-"menye-menyean"-nya.Kekhawatiran akan kegalauan Perahu Kertas gue rasakan setelah membaca lebih dari 1/4 isi buku. Gue pengen berhenti, tapi entah kenapa ga bisa (damn you, Dee!). Gue udah terseret ke dalam adiksi yang bisa disamakan dengan betahnya anak2 4L4Y menonton sinetron. Ingatan gue langsung ke masa2 "guilty pleasure" di Bandung, yaitu mantengin VCD Meteor Garden bareng anak2 kontrakan, lalu "Kuch Kuch Hotta Hai", "Titanic", oops, i think i should stop now.
Misfits Singalong Concert
Punk emang sebuah konsep yang absurd. Lihatlah pemakaman Malcolm McLaren yang gokil. Sayang gue ga bisa ke sana. Tapi di konser Misfits tanggal 10 April yang lalu, gue hadir menjadi saksi bagaimana Punk sekali lagi berhasil menjungkirbalikkan sebuah kelaziman, kali ini dalam hal standar konser musik.Udah diketahui umum bahwa konser musik Punk pasti sound-nya ancur. Jadi ga usah protes kalo lo ga bisa bedain nada2 yang dimainkan Misfits malam itu. Tapi yang bikin takjub adalah reaksi orang2 terhadap "sampah" itu: mereka (termasuk gue) berjoget, moshing, dan yang terpenting-ber-singalong sepanjang konser! Intinya, gemuruh alias noise yang berasal dari instrumen2 musik Misfits ga cukup untuk mencegah penonton bersuka ria dalam persaudaraan Punk!
Langgan:
Entri (Atom)

