Rabu, Desember 07, 2016

Make America Great Again: Sebuah Tinjauan Estetis



Fenomena terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat memang gak habis-habisnya dibahas. Para jurnalis, terutama yang dari Amerika tiap hari menulis artikel tentang  Trump sambil garuk-garuk kepala, “Kok bisa ya, orang yang gaya bicaranya seperti anak kelas 4 SD ini terpilih jadi presiden gue?”. Sementara golongan pekerja seni — artis-artis Hollywood, musisi, dan lain-lain yang terang-terangan menentang Trump kini mengemas barang-barangnya untuk pindah ke Kanada. Para aktivis turun ke jalan menyuarakan demo anti-Trump sebagai reaksi denial atas kekalahan mereka.

Jumat, April 29, 2016

Iggy Pop “Post Pop Depression” – Rock Depresi dari Padang Pasir


Susah untuk menjadi obyektif menilai album terbaru Iggy Pop ini karena gue udah jatuh cinta ama ini orang. Ibaratnya kalo dia bikin album yang isinya cuma suara kentutnya pun akan gue bilang keren.

Post Pop Depression adalah album kolaborasi Iggy Pop dengan Josh Homme (Queens of the Stone Age), sebagai co-songwriter, produser, dan multi-instrumentalis. Dibantu Dean Fertita (Queens of the Stone Age) juga seorang multi-instrumentalis dan Matt Helders di departemen drum (Arctic Monkeys), makin menambah kredibilitas album ini.

Rabu, Mei 27, 2015

Green Day, oh Green Day


Pada 18 April lalu, Green Day dinobatkan dalam Rock n' Roll hall of Fame. Dua malam sebelum acara tersebut, Green Day sempat menggelar konser nostalgia dengan menggandeng drummer lama mereka, John Kiftmeyer, dan tampil sebagai "Sweet Children" (nama yang mereka gunakan sebelum ganti jadi Green Day). Belum lama ini pula, pada tanggal 17 Mei, Green Day kembali mengadakan konser nostalgia di 924 Gilman Street (club underground yang membesarkan mereka, namun sempat memboikot mereka setelah teken kontrak dengan major label Reprise Records). Konser tersebut dalam rangka penggalangan dana bagi 2 penerbit punk yang tempatnya terbakar beberapa waktu sebelumnya. 

Kamis, April 04, 2013

Weezer vs Yeah Yeah Yeahs


Apakah adil untuk membandingkan dua band ini? Ini seperti membandingkan antara musisi senior dan musisi junior. Antara sang legenda dan yang sedang merintis jadi legenda. Pastinya nggak apple to apple. Trus kenapa gue ngotot membandingkan mereka? Cause it’s bloody fun :P. 

Kamis, Februari 07, 2013

Konser Kontroversi Guns N’Roses



Julukan “the most dangerous band in the world” mungkin udah nggak pantes disandang oleh Guns N’ Roses selepas masa jaya mereka --akhir 1980an sampai pertengahan 1990an, tapi kalo “the most sensasional band in the world”, mungkin masih bisa.

“Atas alasan keamanan, konser Guns N’ Roses malam nanti dibatalkan”. Begitulah twit dari TMC Polda Metro, siang hari tanggal 15 Desember 2012. Kabar itu tentu mengejutkan bagi gue dan ribuan fans yang udah siap meluncur ke Lapangan D Senayan untuk menyaksikan mereka malam harinya.

Jumat, Desember 28, 2012

The Act of Killing: Cermin untuk Indonesia, Persembahan Orang Amrik




Dalam mencari tema bahasan, kondisi sosial politik Indonesia yang carut-marut adalah surga bagi para pembuat film dokumenter. Tapi sayang, seperti halnya orang-orang yang bungkam kalo melihat atau mengalami kejahatan yang dilakukan para mafia, berbagai persoalan sosial politik tersebut jarang yang terangkat ke permukaan. Semuanya terkubur, cuma jadi “rahasia umum”.


Kamis, Oktober 18, 2012

The Upstairs - Katalika: Pop Seketika?


Kuat godaan untuk segera melabeli Katalika sebagai album The Upstairs yang terlalu ngepop atau kurang berenergi, seperti yang ditulis temen sotoy gw di blognya ini. Ada benarnya, namun sesungguhnya The Upstairs menawarkan sesuatu yang lain: songwriting yang lebih apik, permainan instrumen yang lebih bijak, dan sound production yang lebih mantep. Katalika mungkin versi dewasa dari The Upstairs, tapi bukan sesuatu yang jelek, apalagi membosankan.