Nggak ada yang bisa membantah statement bahwa Tomorrow People Ensemble (TPE) adalah band paling berbakat se-Indonesia. Kalo yang paling terkenal? Itu lain cerita. Apalagi dibandingkan dengan Peterpan, ST12 atau (here goes)...Kangen Band. TPE ga ada apa-apanya sama mereka dalam hal popularitas. Setidaknya itu anggapan gue sebelum nonton konser TPE di Cafe Au Lait Cikini hari Jumat, 9 Januari 2009. Woooow, begitu nyampe ternyata ratusan penonton udah membludak. Kali ini TPE benar-benar seperti rockstar.
Cafe Au Lait yang ukurannya cuma seuprit itu kayak mau meledak karena gak kuat nampung penonton yang meluber ampe ke Jalan Cikini Raya. Konser pertama TPE setelah hampir 3 tahun vakum ini emang cukup meriah. Terlihat di antara penonton beberapa musisiJazz, seperti Indra Aziz, terus orang-orang dari Warta Jazz, dan ga ketinggalan dari kalangan artis muda berbakat: personil band Alexa, White Shoes and the Couples Company, Rekti dari The Sigit, Bemby Gusti dari Sore, dan orang-orang keren dan beken lainnya yang gue ga kenal. (Berarti kurang beken, donk?). Oya, di sana ga sengaja ketemu temen kantor, yaitu Redy dan bininya. Gue sendiri dateng bareng bassis (additional) gue, Fiki. Bonni, vokalis band gue, Bonni cs - menyusul dengan rekannya, artis rap bernama Yari. Kosan mereka emang cuma beberapa blok dari Cafe Au Lait. (Penting ga sih??).
Pukul 21.00, Nikita Dompas sang gitaris mengeluarkan "sabetan maut-nya menandakan pertunjukan telah dimulai. Indra Perkasa (double bass), Adra Karim (Keyboards), dan Elfa Zulham (drums) ikut nyemplung ke alam "nge-jam" tanpa ragu-ragu. Karena emang band ngejam, jadi wajar aja kalo komposisi lagunya panjang-panjang. Tetep menarik bagi gue karena permainan setiap personil sangat variatif. Apalagi live begini, bisa ngeliat aksi mereka berimprovisasi dengan liar. Ini baru Rockin' Jazz!
Baru kira-kira 2 lagu, Bonni dan Yari yang dari awal udah resah (mungkin karena ga dapet tempat duduk ditambah musiknya yang cukup "berat"), akhirnya memutuskan untuk pulang. Ok, goodbye to you! Gue dan Fiki akhirnya dapet tempat duduk di belakang bareng Redy dan bininya. Gue menikmati tiap detik dari suguhan kelas atas ini. Suasana Cafe Au Lait yang "jadoel punya" ini pun sesuai dengan musik TPE yang modern tapi gak melupakan masa lalu. TPE tampil total malam itu, membayar "dosa" atas nihilnya pentas musik berkualitas selama mereka vakum.
Pukul 11 temen gue Fiki ngajak cabut. Ya udah, kita akhirnya permisi dari Cafe Au Lait. Kebetulan Redy juga mau udahan. Sayang juga sih ga ngeliat sampe abis, karena kabarnya di akhir acara mereka ngebawain theme song Mario Bros. Well bagaimanapun, puas juga nonton mereka selama hampir dua jam. Setidaknya cukuplah buat mengobati kerinduan. Tapi tetep..gue ga sabar nungguin album yang katanya lagi digarap. Good luck guys, keep rockin'! Kelian adalah antitesis dari industri musik Indonesia yang makin monoton.
(Foto digrab dengan sembarangan dari You Tube :D)
Check out their performance at You Tube (diambil oleh Indra Aziz):
http://www.youtube.com/watch?v=ZHpvjyPAU4A
http://www.youtube.com/watch?v=e9I6GHRX_Cw&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=4eez9pI8cHc&feature=related
www.myspace.com/tpensemble
Di tahun 2008 yang lalu tiga supergrup dari kubu Hard Rock dan Thrashmetal merilis album studio mereka yang baru. (Emang....sekarang 2009, tapi what da heck! Tulisannya baru kelar sekarang tuuch...so bite me!). Juli, Motley Crue mengeluarkan Saints of Los Angeles, sementara bulan September Metallica menyusul dengan Death Magnetic. Guns N Roses yang tinggal menyisakan anggota asli Axl Rose, merilis Chinese Democracy di akhir November. Mereka yang menginspirasi berjuta-juta band dan umat manusia ini, agaknya ingin mengokohkan lagi keberadaannya, bukan sebagai monumen yang layak dikenang, tapi sebagai seniman yang masih segar berkreasi dan menjadi rival bagi band-band lebih muda. Sebenernya masih ada AC/DC, tapi gue kurang doyan band ini. Cuma 1-2 lagu lah yang nyantol. Oke, here we go...
The Saints Are Cumming
The Saints of Los Angeles agaknya digunakan Motley Crue sebagai sarana promosi untuk film otobiografi mereka yang dijadwalkan keluar tahun 2009. Film yang kabarnya dibintangi Val Kilmer ini dibuat berdasarkan buku otobiografi The Dirt yang sudah beredar sejak 2001. Jadi wajar aja kalo isi lagu The Saints of Los Angeles berkutat seputar kehidupan para begundal Motley waktu mengadu nasib di LA. Segala macam anthem hedonisme dan “ajep-ajep” mewarnai sebagian besar lagu mereka. Secara musikal pun banyak mengacu pada era-era awal mereka, Shout At The devil atau Dr. Feelgood, album landmark Motley Crue. Ada sedikit nuansa techno di beberapa lagu yang jelas merupakan input dari Tommy Lee yang juga seorang DJ. Tapi untungnya modernisasi ini gak merusak kementahan dan keliaran musik "sleazy rock n roll" ala Motley Crue. Overall hasil karya ini cukup bagus walau nggak bisa dibilang maksimal. Satu-satunya unsur yang mengganggu adalah tema yang seragam itu tadi. Key tracks adalah Face Down In The Dirt,Saints of Los Angeles, Motherfucker of the Year . Buat fans berat Motley, album ini jangan sampai dilewatkan. Setel kenceng2 is a must!
Metal Magnetica
Setelah menuangkan amarah di album St. Anger, Metallica memutuskan untuk berhenti sejenak dan menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya. Apakah itu, adik-adik? Good ol' in your face fucking grinding ear bleeding non-stop solo guitar everywhere thrashmetal, of course!
Death Magnetic jelas-jelas dibuat mengacu kepada album-album lama mereka, terutama Master of Puppet. Produser kawakan Rick Rubin adalah otak dibalik kembalinya Metallica ke roots mereka. Apakah berhasil? Pastinya, mereka berhasil dalam membuat album yang luar bisa berisik. Sound gitar dan drum benar-benar dimaksimalkan volumenya sehingga gue bertanya-tanya, apa ini karena emang Metallica pengen kenceng, ato karena telinga mereka udah budek? Akibatnya, Vokal Hetfield terkubur nun jauh di bawah. Yang paling menonjol adalah aksi Kirk Hemmett. Ia diberi kebebasan lagi untuk mengeksplorasi gitarnya dengan solo-solo yang dahsyat. Aransemen Death Magnetic dipenuhi ngejam bebas sehingga rata-rata lagu mereka berdurasi 7 menit. Tracks yang mencuri perhatian adalah That Was Just Your Life, Cyanide, The Day That Never Comes.
Chinese Democrazy
Yap, semua orang tau kalo William Axl Rose adalah orang yang sableng. Album Chinese Democracy adalah bukti yang paling baru. Bayangkan, album yang "cuma" berisi 14 lagu ini baru dirilis 15 tahun setelah The Spaghetti Incident?, album studio terakhir mereka.
Pertama kali mendengarkan lagu pada album ini gue langsung bisa memahami kenapa anggota GNR lainnya keluar, terutama Slash. Sound dan permainan gitar Buckethead, Robin Finck, dan Bumblefoot benar-benar modern mendekati metal, sangat berbeda dengan gaya permainan Slash yang rock n roll berat. Is that a good thing or a bad thing? It's fucking baaad i tell you (in a good way---hah?). Yeah, me like it! Axl cs telah memoles album ini sampai titik darah penghabisan dan menghasilkan album yang walaupun tertunda cukup lama - sampai detik ini masih terdengar relevan. Killer tracks adalah Chinese Democracy, Shackler's Revenge, Better, IRS, Catcher In The Rye.
The Verdict
Ketiga album ini sama-sama memuaskan kerinduan pengemar akan segala kebaikan mereka di masa lalu. Sarat nostalgia dan reuni yang cukup mengharukan bagi para rockers dan metallers. Namun sepertinya Motley Crue yang keluar sebagai pemenang. I mean, permainan mereka seakan-akan ga berubah setelah puluhan tahun! Vokal Vince Neill masih obnoxiously cempreng, gitar Mick Mars masih garang dan makin menjadi, bassnya Nikki Sixx mendentum dengan nakal, dan Tommy Lee masih solid di balik drum kit, seakan-akan segala hype tentang dirinya sama sekali ga pengaruh.
Juara kedua adalah Guns N Roses. Seharusnya mereka jadi yang pertama, turun posisi karena anggota aslinya tinggal Axl. Jadi walaupun album ini yang paling inovatif di antara ketiganya, tanpa anggota orisinil GN'R lainnya, ada yang kurang gimanaaa gituh.
Metallica di urutan terakhir karena walaupun berusaha sekuat tenaga menyamai masa muda mereka, lagu-lagunya ga ada yang bener-bener nempel di kepala. Secara teknis permainan dan sound mereka tanpa cela, terdengar kalo mereka udah expert di bidang per-thrashmetal-an ini.