Seperti halnya Exploited, konser NOFX kali ini digawangi oleh EO kecil, yaitu M2 production (kalo ga salah??). Sehingga wajar kalo promosinya minim sekali. Mereka hanya mengandalkan penyebaran poster, email, dan promosi dari mulut ke mulut (dikenal jg dengan nama oralvertising, jangan disamakan dengan oral sex ya…). Yang menarik adalah jadwal konser NOFX di Jakarta berdekatan dengan kedatangan band idola para ABG, Good Charlotte. Bedanya Good Charlotte didatangkan oleh Java Musikindo, dengan promosi jor-joran melalui above the line dan below the line (…apa siiih…) sehingga terlihatlah pertarungan yang nyata antara Kaum Kapitalis vs Proletar. The Mainstream vs The Extreme. The Assholes vs The Heroes. (WTFK????)
Cukup dengan Good Charlotte, mari kita kembali membicarakan musik yg berkualitas . Di luar berbagai kekurangan yang terjadi karena diadakan oleh EO kecil, ada berkah yang didapat, yaitu tiket yang cukup murah, Rp80.000 saja! Coba bandingkan dengan Good Charlotte yang mencapai Rp350.000 (Btw, kok ngomongin band setan itu lagi ya?).
Pada hari H, mulai terlihat kekurang-organisasian pengorganisir acara. Di jadwal tercantum bahwa pintu PRJ akan dibuka pukul 5 sore. Pada kenyataannya, jam segitu pintu gerbang masih tertutup rapat, sehingga terlihat pemandangan sekumpulan calon penonton konser seperti sedang menanti kereta lebaran. Kecuali bahwa mereka memakai kaos NOFX dan berambut mohawk, bukannya make kebaya dan kondean.
Pintu gerbang depan baru dibuka pukul 19.00, setelah itu “NOFXers” harus mengantri di pintu kedua untuk pemeriksaan tiket. Panitia cuma menyediakan dua lajur, memakai jasa segelintir polisi yang memeriksa tiket dengan
Setelah ngantri sekitar sejam, dan berharap langsung bisa ajojing, ternyata
Sekitar Jam 20.30, King Ly Chee, band pembuka dari
Pukul 21.00, King Ly Chee akhirnya turun pentas disambut suka cita para penonton yang udah ga sabar lagi. Sembari menunggu NOFX siap, penonton ditemani oleh musik Reggae dan Dub dari speaker panggung. Cukup menenangkan…
Songlist mereka yang gw inget: Franco Unamerican, Lenoleum, The Brews, Don’t Call Me White, Murder the Government. Nggak ketinggalan, mereka membawakan lagu Bad Religion, “Do What You Want” dan “Radio” dari Rancid yang diaransemen menjadi Reggae. Selain itu mereka juga memainkan sebuah nomor Jazz, yang menonjolkan permainan terompet El Hefe. Sangat variatif!
Menjelang akhir konser, pintu dibuka untuk 200 punkers yang dari awal menunggu jebolan. Mereka sepertinya Punk-punk borok yang ingin mencari masalah dan gak gitu ngerti musik NOFX. Fat Mike pun berceloteh, “Kita kedatangan 200 orang miskin yang nggak mampu buat beli tiket. Hmm…kalian semua sebenarnya juga orang miskin sih…..tapi jangan berkecil hati karena ada 200 orang yang lebih miskin dari kalian!”
Untungnya suasana tetap kondusif dengan selingan musik yang berirama reggae, “Kill All The Whitemen” berhasil menggoyangkan--sekaligus mengademkan-- satu PRJ. Disamping lawakan-lawakan Fat Mike dan El Hefe menjauhkan konser dari kerusuhan.
NOFX menyudahi konser setelah memenuhi keinginan “we want more” dari penonton. Sebenarnya malas untuk berpisah dengan para living legend ini, tapi daripada digebukin pake rotan sama polisi? Yuuuuk……..
Di samping berbagai kekurangan yang ada (banyuaaak, actually), pujian layak dialamatkan buat panitia karena telah berani mengadakan acara ini. Dilihat dari penonton yang membludak, kayaknya konser ini cukup berhasil. Dan semoga saja NOFX menepati janjinya untuk mengajak Bad Religion dan Rancid main ke sini. Jadi Punkers! Mari kita semua bergandengan tangan, berdoa, kalo berita ini bukan guyonon Fat Mike semata. Oi…oi…oi!!!
