Kamis, April 04, 2013

Weezer vs Yeah Yeah Yeahs


Apakah adil untuk membandingkan dua band ini? Ini seperti membandingkan antara musisi senior dan musisi junior. Antara sang legenda dan yang sedang merintis jadi legenda. Pastinya nggak apple to apple. Trus kenapa gue ngotot membandingkan mereka? Cause it’s bloody fun :P. 

Kamis, Februari 07, 2013

Konser Kontroversi Guns N’Roses



Julukan “the most dangerous band in the world” mungkin udah nggak pantes disandang oleh Guns N’ Roses selepas masa jaya mereka --akhir 1980an sampai pertengahan 1990an, tapi kalo “the most sensasional band in the world”, mungkin masih bisa.

“Atas alasan keamanan, konser Guns N’ Roses malam nanti dibatalkan”. Begitulah twit dari TMC Polda Metro, siang hari tanggal 15 Desember 2012. Kabar itu tentu mengejutkan bagi gue dan ribuan fans yang udah siap meluncur ke Lapangan D Senayan untuk menyaksikan mereka malam harinya.

Jumat, Desember 28, 2012

The Act of Killing: Cermin untuk Indonesia, Persembahan Orang Amrik




Dalam mencari tema bahasan, kondisi sosial politik Indonesia yang carut-marut adalah surga bagi para pembuat film dokumenter. Tapi sayang, seperti halnya orang-orang yang bungkam kalo melihat atau mengalami kejahatan yang dilakukan para mafia, berbagai persoalan sosial politik tersebut jarang yang terangkat ke permukaan. Semuanya terkubur, cuma jadi “rahasia umum”.


Kamis, Oktober 18, 2012

The Upstairs - Katalika: Pop Seketika?


Kuat godaan untuk segera melabeli Katalika sebagai album The Upstairs yang terlalu ngepop atau kurang berenergi, seperti yang ditulis temen sotoy gw di blognya ini. Ada benarnya, namun sesungguhnya The Upstairs menawarkan sesuatu yang lain: songwriting yang lebih apik, permainan instrumen yang lebih bijak, dan sound production yang lebih mantep. Katalika mungkin versi dewasa dari The Upstairs, tapi bukan sesuatu yang jelek, apalagi membosankan.

Sabtu, Juli 07, 2012

Steve Jobs by Walter Isaacson (Buku Biografi Steve Jobs)

Steve Jobs memang arogan. Bahkan sampai menjelang kematiannya. Ia begitu percaya diri sampai beranggapan bahwa orang yang pantas menulis biografinya hanyalah Walter Isaacson, mantan editor majalah Time yang sebelumnya menggarap biografi Benjamin Franklin dan Albert Einstein.

Selain faktor arogan, alasan Steve Jobs memilih Walter Isaacson adalah karena Isaacson sanggup membuat banyak orang bicara dengan jujur. Ya, di luar kebiasaannya yang suka mengatur, kali ini Steve Jobs benar-benar membebaskan Isaacson untuk menulis tentang dirinya dengan apa adanya, tanpa sensor (seperti review ini).

Dan bagaimana hasilnya? Wawancara intensif Isaacson dengan ratusan orang yang bersinggungan di kehidupan Jobs, ditambah lagi pertemuannya dengan Jobs selama lebih dari empat puluh kali, menghasilkan sebuah buku setebal 742 halaman (versi Bahasa Indonesia) dengan tingkat kecermatan yang tinggi.

Rabu, September 28, 2011

Bad Religion, Bad Marketing

Setelah Marky Ramone, satu lagi legenda Punk Rock sudi mampir ke Jakarta, yaitu Bad Religion. Band yang udah berdiri sejak 1980 di Los Angeles ini termasuk band Hardcore Punk yang paling awet.


Di Indonesia, nama Bad Religion baru beken di dekade 90-an, saat Rock Alternatif (termasuk Punk) menjadi trend. Album "Recipe For Hate" yang dirilis tahun 1993 dengan hits "American Jesus" dan "Struck A Nerve" adalah salah satu karya Punk yang wajib dikoleksi. Di tahun berikutnya, mereka juga masuk dalam kompilasi Punk-O-Rama dengan lagu "Do What You Want". Kemudian pada 1995, dirilis album kompilasi berjudul "All Ages" yang memuat lagu-lagu terbaik Bad Religion dari tahun 1982-1992. Tahun 1996, mereka hadir lagi dengan album Gray Race yang mempopulerkan "Punk Rock Song". Sayang, setelah trend alternatf memudar, album2 mereka gak dirilis lagi di Indonesia. Pokoknya Bad Religion cukup dikenal lah buat rockers di era 90-an.

Kamis, Agustus 18, 2011

Rockvolution 2011: Gabba Gabba Hey Ho Let's Go!


Kalau elo seorang drummer, doyan Punk rock, ditambah lagi ga doyan ngerokok, alangkah anehnya kalo sampe gak nonton Rockvolution 2011. Festival Rock (Indie) yang antara lain disponsori Komnas Pengendalian Tembakau ini memboyong Marky Ramone's Blitzkrieg, band terbaru dari drummer Punk legendaris, Marky Ramone. 

Jumat, Juli 22, 2011

LLW: Indra Just Wanna Have Fun

LLW (dibaca "dabel el dabel yu"), adalah proyekan terbaru Indra Lesmana bareng dua anak muda, Barry Likumahuwa (bas) dan Sandy Winarta (drum). Menurut catatan gue, ini kedua kalinya Indra Lesmana membentuk power trio jazz. Sebelumnya, Indra punya PIG yang mengikutsertakan Pra Budi Dharma dan Gilang Ramadhan.

Minggu, April 10, 2011

Restoran Afrikana: Wakka Wakka Nyam Nyam....

Niat hati sih pengen makan sate afrika di Tanah Abang, tapi karena waktu nggak mencukupi, ya gue terpaksa mencari alternatif lain. Di Jalan Kemanggisan Utama, beberapa jengkal sebelum Slipi Jaya menuju Tanah Abang, mata gue tertumbuk ke sisi kiri jalan. Di antara jejeran ruko, ada plang bertuliskan "Afrikana", restoran afrika. Wah, manarik juga nih. Sebenernya agak ragu, karena dari luar bangunannya bergaya modern. Seharusnya (menurut gue) restoran Afrika lebih tradisional, berbentuk seperti jamur dan beratap ijuk. Kalau penampakannya modern, bisa jadi rasa Afrika-nya berkurang. Dan dari logonya, sepertinya ini franchise. Tapi ah, cuek aje. soalnya perut udah sulit berkompromi.

Minggu, Desember 26, 2010

Buried: Bukan Buat Yang Berhati Hollywood

Buried ini salah satu jenis film nyentrik yang bukan untuk semua orang. Kalo nonton di bioskop, pastikan penonton lain cukup beradab sehingga mereka nggak mengeluarkan suara2 sumbang yang mengganggu. Sehari sebelum gue nonton, temen gue mengalaminya. Penonton di sebelahnya berisik mengeluhkan cerita yang terlalu ajaib buat mereka. Dan esoknya, kejadian serupa pun menimpa gue. Kali ini rombongan keluarga yang duduk di atas gue. Dari awal udah berisik nggak jelas dan di ujung film ada yang nyeletuk, “Tuh kan, mendingan juga nonton Gulliver’s Travels!”
Gue nggak akan memberi terlalu banyak info soal film ini karena akan merusak kenikmatan menonton. Yang jelas ini salah satu film yang berhasil menjaga ketegangan dari awal sampai akhir, selama 90 menit. Pesan dari gue cuma satu: nikmati saja ceritanya dan tentunya akting prima Ryan Reynolds.

Minggu, Mei 09, 2010

Pangkep 33: Salam 33 Jari!

Setelah membaca review Pangkep 33 di internet, gue mengalami kesulitan tidur karena terus membayangkan nikmatnya makan seafood di sana.

Akhirnya, kesempatan itu tiba juga. Berawal dari kepergian gue dan bokap-nyokap ke Mangga Dua. Mereka mo beli kaos sedangkan gue nyari DVD film dan software. Tadinya, abis dari Mangdu kita mau makan siang ke restoran steak baru milik salah satu kerabat di daerah Cinere. Nah, berhubung waktu kunjungan di Mangdu yang molor ampe jam 12 lewat dan naga di perut ini udah susah berkompromi, akhirnya gue berinisiatif untuk ngajak bonyok nyobain Pangkep 33, yang lokasinya ga jauh dari Mangdu, tepatnya di Jl. Batu Ceper no.63.

Sabtu, April 24, 2010

Perahu Kertas: How Pop Can You Go?

Terus terang pertama kali gue tergerak untuk membaca Perahu Kertas - novelnya Dewi Lestari - adalah karena gue dengar ceritanya nyerempet2 dunia periklanan. Ya, gue tahu di dalamnya ada kisah cinta antara 2 tokoh, Kugy dan Keenan yang sama2 berkepribadian nyentrik. Tapi gue nggak nyangka juga kalo novel ini adalah sebuah roman sejati, lengkap dengan sengala ke-"menye-menyean"-nya.

Kekhawatiran akan kegalauan Perahu Kertas gue rasakan setelah membaca lebih dari 1/4 isi buku. Gue pengen berhenti, tapi entah kenapa ga bisa (damn you, Dee!). Gue udah terseret ke dalam adiksi yang bisa disamakan dengan betahnya anak2 4L4Y menonton sinetron. Ingatan gue langsung ke masa2 "guilty pleasure" di Bandung, yaitu mantengin VCD Meteor Garden bareng anak2 kontrakan, lalu "Kuch Kuch Hotta Hai", "Titanic", oops, i think i should stop now.


Misfits Singalong Concert

Punk emang sebuah konsep yang absurd. Lihatlah pemakaman Malcolm McLaren yang gokil. Sayang gue ga bisa ke sana. Tapi di konser Misfits tanggal 10 April yang lalu, gue hadir menjadi saksi bagaimana Punk sekali lagi berhasil menjungkirbalikkan sebuah kelaziman, kali ini dalam hal standar konser musik.

Udah diketahui umum bahwa konser musik Punk pasti sound-nya ancur. Jadi ga usah protes kalo lo ga bisa bedain nada2 yang dimainkan Misfits malam itu. Tapi yang bikin takjub adalah reaksi orang2 terhadap "sampah" itu: mereka (termasuk gue) berjoget, moshing, dan yang terpenting-ber-singalong sepanjang konser! Intinya, gemuruh alias noise yang berasal dari instrumen2 musik Misfits ga cukup untuk mencegah penonton bersuka ria dalam persaudaraan Punk!

Minggu, Februari 28, 2010

The Wolfman: Auuuwww...auwww...ouchh...

Ketika tau kalo film The Wolfman dibintangi Anthony Hopkins dan Benicio Del Toro, gue sangat antusias pengen nonton. Apalagi cerita tentang werewolf masih terdengar seksi, walau udah ribuan judul dibuat dengan tema ini. Sutradaranya (Joe Johnston) emang gue kagak tau, tapi what the hell lah, standar sutradara ga terkenal Hollywood ama di sini kan beda :) .

The Wolfman yang bersetting Inggris di tahun 1800-an ini mempunyai gambar2 yang cantik. Bener deh, setting, kostum, grading, sinematografi, semuanya tanpa cela. Efek visual sang werewolf juga cukup mantap. Beda lah dengan film2 jaman dulu yang transformasi werewolf-nya kasar. Oya, katanya ini remake dari film berjudul sama yang dibuat tahun 1941. Walaupun belum liat versi aslinya, tapi gue yakin kalo The Wolfman versi sekarang ini jauh lebih baik secara artistik.

Sabtu, Februari 27, 2010

Jimmy "The Rev" Sullivan: Sebuah Tribut

Kabar bagus ketika tadi gue iseng nengok website Avengedsevenfold.com. Katanya A7X baru selesai rekaman track drum dengan Mike Portnoy! Mike adalah drummer favorit almarhum Jimmy "The Rev" Sullivan yang wafat 28 Desember 2009. Ini adalah sebuah kejutan hebat dan penghormatan besar buat Jimmy. Tapi kalo dipikir2 lagi, emang ga ada drummer yang menandingi kehebatan Jimmy selain Mike Portnoy.

Minggu, November 15, 2009

Jakarta Bergoncang Lagi!

Tanggal 14 November kemaren, Jakarta kembali bergoncang. Bukan karena gempa, tapi akibat ulah band Post-Punk asal Glasgow: Franz Ferdinand! Mereka tampil memukau sehingga seluruh Ancol berjoget seliar-liarnya. Konon efek goncangan terdengar sampai benua Amerika. Dan beruntung sekali gue bisa hadir sebagai saksi :P.

Franz Ferdinand tampil di Playground Festival 2009, Pantai Carnaval, Ancol. Festival yang mengkhususkan diri pada genre dance music ini juga menampilkan Chicane, Mixhell–beranggotakan Igor Cavalera (ex-Sepultura) dan istri, Peter Hook–bassisnya New Order yang nge-DJ lagu2 New Order dan Joy Division, Agrikulture, C.U.T.S, The Sigit dan banyak sekali DJ2 yang gue ga familiar.

Sabtu, September 26, 2009

Khuruksetra: Noise Annoys


Curiosity kills the cat. Dalam kasus gue, curiosity kills my faith on Noise Rock. Ya, gue blon pernah ngeliat konser Noise Rock sebelumnya, kecuali Sonic Youth. Mereka pun ga sepenuhnya noise, masih ada lagunya lah. Nah ini kemaren gue diajak ngeliat band experimental noise. Nah lo. Sebenernya udah kebayang sih kayak gimana. Pasti banyak sound2 monoton dengan berbagai macam feedback.

Nama bandnya adalah Khuruksetra. Mereka anak2 muda Indonesia yang kuliah di Australia. Pada tanggal 12 September 2009 yang lalu, Khuruksetra menggelar konser yang bertajuk ‘Bliss, Plague, Damnation’ di Theater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ini adalah kesempatan langka untuk ngeliat band yang mengaku bisa menghidupkan kembali suasana perang Mahabharata. Aroma Jawa kuno yang eksotis cukup mendorong gue untuk mengiyakan ajakan seorang teman. Bahkan gue pun pake kaos bergambar “Werkudara” bikinan Mirota Batik.


Mandi Kambing di Hadramout

Gara2 sebuah review di milis Jalansutra, gue dan geng makan2 penasaran bukan kepalang ingin menyicipi kambing di Hadramout Restaurant. Ini adalah restaurant Arab yang terkenal dengan menu “Mandi Kambing”, yaitu 1 set menu yang terdiri dari ¼ kambing panggang dilengkapi nasi (seperti kebuli) dan sop.

Waktu eksekusi emang agak mengkhawatirkan, yaitu hari Jumat dan saat bulan puasa. Maka kita memutuskan untuk memesan tempat dulu daripada pulang dengan perut hampa. Benar saja, menjelang saat yang dinantikan, jalanan menuju ke Jl. Tambak macet abis. Jadi terpaksa kita berbuka di jalan. Untung salah satu personil berinisiatif untuk membeli minuman dan sedikit roti untuk mengganjal perut.

Do You Remember Ramones' End Of The Century?


Dalam kehidupan, ada saatnya kita merasa rancu antara berperilaku konsisten dan monoton. Menjadi pribadi yang konsisten tentu sesuatu yang terpuji, tapi kalau tidak berhati-hati bisa terjerumus menjadi monoton dan membosankan. Rileks guys, gue ga lagi mengambil lahannya Mario Teguh. Ini lagi ngomongin Ramones dan albumnya klasiknya, ‘End Of The Century’ yang diproduseri Phil Spector di tahun 1980.

Minggu, Agustus 30, 2009

District 9: Alien Juga Manusia

District 9, yang diproduseri oleh Peter Jackson (Lord of the Ring, King Kong) tampil berbeda dibandingkan film2 science fiction kebanyakan. Sutradara Neill Blomkamp mengambil suasana senatural mungkin layaknya film dokumenter. Sehingga film ini lebih mirip The Blair Witch Project daripada ID4.

Alien2 ditampilkan dengan menjijikkan, rapuh, dan tak berbudaya. Tapi apakah berarti mereka jahat? Ternyata tidak. Dari luar memang menyeramkan, tapi para manusia terbukti lebih jahat. Alien2 itu ditampung dalam District 9, sebuah camp yang tidak layak, bahkan akan dipindahkan lagi ke District 10 yang lebih kumuh. Beberapa dari mereka dijadikan kelinci percobaan oleh para ilmuwan.