LLW (dibaca "dabel el dabel yu"), adalah proyekan terbaru Indra Lesmana bareng dua anak muda, Barry Likumahuwa (bas) dan Sandy Winarta (drum). Menurut catatan gue, ini kedua kalinya Indra Lesmana membentuk power trio jazz. Sebelumnya, Indra punya PIG yang mengikutsertakan Pra Budi Dharma dan Gilang Ramadhan. Jumat, Juli 22, 2011
LLW: Indra Just Wanna Have Fun
LLW (dibaca "dabel el dabel yu"), adalah proyekan terbaru Indra Lesmana bareng dua anak muda, Barry Likumahuwa (bas) dan Sandy Winarta (drum). Menurut catatan gue, ini kedua kalinya Indra Lesmana membentuk power trio jazz. Sebelumnya, Indra punya PIG yang mengikutsertakan Pra Budi Dharma dan Gilang Ramadhan. Minggu, April 10, 2011
Restoran Afrikana: Wakka Wakka Nyam Nyam....
Niat hati sih pengen makan sate afrika di Tanah Abang, tapi karena waktu nggak mencukupi, ya gue terpaksa mencari alternatif lain. Di Jalan Kemanggisan Utama, beberapa jengkal sebelum Slipi Jaya menuju Tanah Abang, mata gue tertumbuk ke sisi kiri jalan. Di antara jejeran ruko, ada plang bertuliskan "Afrikana", restoran afrika. Wah, manarik juga nih. Sebenernya agak ragu, karena dari luar bangunannya bergaya modern. Seharusnya (menurut gue) restoran Afrika lebih tradisional, berbentuk seperti jamur dan beratap ijuk. Kalau penampakannya modern, bisa jadi rasa Afrika-nya berkurang. Dan dari logonya, sepertinya ini franchise. Tapi ah, cuek aje. soalnya perut udah sulit berkompromi.
Minggu, Desember 26, 2010
Buried: Bukan Buat Yang Berhati Hollywood
Buried ini salah satu jenis film nyentrik yang bukan untuk semua orang. Kalo nonton di bioskop, pastikan penonton lain cukup beradab sehingga mereka nggak mengeluarkan suara2 sumbang yang mengganggu. Sehari sebelum gue nonton, temen gue mengalaminya. Penonton di sebelahnya berisik mengeluhkan cerita yang terlalu ajaib buat mereka. Dan esoknya, kejadian serupa pun menimpa gue. Kali ini rombongan keluarga yang duduk di atas gue. Dari awal udah berisik nggak jelas dan di ujung film ada yang nyeletuk, “Tuh kan, mendingan juga nonton Gulliver’s Travels!”Gue nggak akan memberi terlalu banyak info soal film ini karena akan merusak kenikmatan menonton. Yang jelas ini salah satu film yang berhasil menjaga ketegangan dari awal sampai akhir, selama 90 menit. Pesan dari gue cuma satu: nikmati saja ceritanya dan tentunya akting prima Ryan Reynolds.
Minggu, Mei 09, 2010
Pangkep 33: Salam 33 Jari!
Setelah membaca review Pangkep 33 di internet, gue mengalami kesulitan tidur karena terus membayangkan nikmatnya makan seafood di sana.Akhirnya, kesempatan itu tiba juga. Berawal dari kepergian gue dan bokap-nyokap ke Mangga Dua. Mereka mo beli kaos sedangkan gue nyari DVD film dan software. Tadinya, abis dari Mangdu kita mau makan siang ke restoran steak baru milik salah satu kerabat di daerah Cinere. Nah, berhubung waktu kunjungan di Mangdu yang molor ampe jam 12 lewat dan naga di perut ini udah susah berkompromi, akhirnya gue berinisiatif untuk ngajak bonyok nyobain Pangkep 33, yang lokasinya ga jauh dari Mangdu, tepatnya di Jl. Batu Ceper no.63.
Sabtu, April 24, 2010
Perahu Kertas: How Pop Can You Go?
Terus terang pertama kali gue tergerak untuk membaca Perahu Kertas - novelnya Dewi Lestari - adalah karena gue dengar ceritanya nyerempet2 dunia periklanan. Ya, gue tahu di dalamnya ada kisah cinta antara 2 tokoh, Kugy dan Keenan yang sama2 berkepribadian nyentrik. Tapi gue nggak nyangka juga kalo novel ini adalah sebuah roman sejati, lengkap dengan sengala ke-"menye-menyean"-nya.Kekhawatiran akan kegalauan Perahu Kertas gue rasakan setelah membaca lebih dari 1/4 isi buku. Gue pengen berhenti, tapi entah kenapa ga bisa (damn you, Dee!). Gue udah terseret ke dalam adiksi yang bisa disamakan dengan betahnya anak2 4L4Y menonton sinetron. Ingatan gue langsung ke masa2 "guilty pleasure" di Bandung, yaitu mantengin VCD Meteor Garden bareng anak2 kontrakan, lalu "Kuch Kuch Hotta Hai", "Titanic", oops, i think i should stop now.
Misfits Singalong Concert
Punk emang sebuah konsep yang absurd. Lihatlah pemakaman Malcolm McLaren yang gokil. Sayang gue ga bisa ke sana. Tapi di konser Misfits tanggal 10 April yang lalu, gue hadir menjadi saksi bagaimana Punk sekali lagi berhasil menjungkirbalikkan sebuah kelaziman, kali ini dalam hal standar konser musik.Udah diketahui umum bahwa konser musik Punk pasti sound-nya ancur. Jadi ga usah protes kalo lo ga bisa bedain nada2 yang dimainkan Misfits malam itu. Tapi yang bikin takjub adalah reaksi orang2 terhadap "sampah" itu: mereka (termasuk gue) berjoget, moshing, dan yang terpenting-ber-singalong sepanjang konser! Intinya, gemuruh alias noise yang berasal dari instrumen2 musik Misfits ga cukup untuk mencegah penonton bersuka ria dalam persaudaraan Punk!
Minggu, Februari 28, 2010
The Wolfman: Auuuwww...auwww...ouchh...
Ketika tau kalo film The Wolfman dibintangi Anthony Hopkins dan Benicio Del Toro, gue sangat antusias pengen nonton. Apalagi cerita tentang werewolf masih terdengar seksi, walau udah ribuan judul dibuat dengan tema ini. Sutradaranya (Joe Johnston) emang gue kagak tau, tapi what the hell lah, standar sutradara ga terkenal Hollywood ama di sini kan beda :) .The Wolfman yang bersetting Inggris di tahun 1800-an ini mempunyai gambar2 yang cantik. Bener deh, setting, kostum, grading, sinematografi, semuanya tanpa cela. Efek visual sang werewolf juga cukup mantap. Beda lah dengan film2 jaman dulu yang transformasi werewolf-nya kasar. Oya, katanya ini remake dari film berjudul sama yang dibuat tahun 1941. Walaupun belum liat versi aslinya, tapi gue yakin kalo The Wolfman versi sekarang ini jauh lebih baik secara artistik.
Sabtu, Februari 27, 2010
Jimmy "The Rev" Sullivan: Sebuah Tribut
Kabar bagus ketika tadi gue iseng nengok website Avengedsevenfold.com. Katanya A7X baru selesai rekaman track drum dengan Mike Portnoy! Mike adalah drummer favorit almarhum Jimmy "The Rev" Sullivan yang wafat 28 Desember 2009. Ini adalah sebuah kejutan hebat dan penghormatan besar buat Jimmy. Tapi kalo dipikir2 lagi, emang ga ada drummer yang menandingi kehebatan Jimmy selain Mike Portnoy.Minggu, November 15, 2009
Jakarta Bergoncang Lagi!
Tanggal 14 November kemaren, Jakarta kembali bergoncang. Bukan karena gempa, tapi akibat ulah band Post-Punk asal Glasgow: Franz Ferdinand! Mereka tampil memukau sehingga seluruh Ancol berjoget seliar-liarnya. Konon efek goncangan terdengar sampai benua Amerika. Dan beruntung sekali gue bisa hadir sebagai saksi :P.
Franz Ferdinand tampil di Playground Festival 2009, Pantai Carnaval, Ancol. Festival yang mengkhususkan diri pada genre dance music ini juga menampilkan Chicane, Mixhell–beranggotakan Igor Cavalera (ex-Sepultura) dan istri, Peter Hook–bassisnya New Order yang nge-DJ lagu2 New Order dan Joy Division, Agrikulture, C.U.T.S, The Sigit dan banyak sekali DJ2 yang gue ga familiar.
Franz Ferdinand tampil di Playground Festival 2009, Pantai Carnaval, Ancol. Festival yang mengkhususkan diri pada genre dance music ini juga menampilkan Chicane, Mixhell–beranggotakan Igor Cavalera (ex-Sepultura) dan istri, Peter Hook–bassisnya New Order yang nge-DJ lagu2 New Order dan Joy Division, Agrikulture, C.U.T.S, The Sigit dan banyak sekali DJ2 yang gue ga familiar.
Sabtu, September 26, 2009
Khuruksetra: Noise Annoys

Curiosity kills the cat. Dalam kasus gue, curiosity kills my faith on Noise Rock. Ya, gue blon pernah ngeliat konser Noise Rock sebelumnya, kecuali Sonic Youth. Mereka pun ga sepenuhnya noise, masih ada lagunya lah. Nah ini kemaren gue diajak ngeliat band experimental noise. Nah lo. Sebenernya udah kebayang sih kayak gimana. Pasti banyak sound2 monoton dengan berbagai macam feedback.
Nama bandnya adalah Khuruksetra. Mereka anak2 muda Indonesia yang kuliah di Australia. Pada tanggal 12 September 2009 yang lalu, Khuruksetra menggelar konser yang bertajuk ‘Bliss, Plague, Damnation’ di Theater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ini adalah kesempatan langka untuk ngeliat band yang mengaku bisa menghidupkan kembali suasana perang Mahabharata. Aroma Jawa kuno yang eksotis cukup mendorong gue untuk mengiyakan ajakan seorang teman. Bahkan gue pun pake kaos bergambar “Werkudara” bikinan Mirota Batik.
Mandi Kambing di Hadramout
Gara2 sebuah review di milis Jalansutra, gue dan geng makan2 penasaran bukan kepalang ingin menyicipi kambing di Hadramout Restaurant. Ini adalah restaurant Arab yang terkenal dengan menu “Mandi Kambing”, yaitu 1 set menu yang terdiri dari ¼ kambing panggang dilengkapi nasi (seperti kebuli) dan sop.
Waktu eksekusi emang agak mengkhawatirkan, yaitu hari Jumat dan saat bulan puasa. Maka kita memutuskan untuk memesan tempat dulu daripada pulang dengan perut hampa. Benar saja, menjelang saat yang dinantikan, jalanan menuju ke Jl. Tambak macet abis. Jadi terpaksa kita berbuka di jalan. Untung salah satu personil berinisiatif untuk membeli minuman dan sedikit roti untuk mengganjal perut.
Waktu eksekusi emang agak mengkhawatirkan, yaitu hari Jumat dan saat bulan puasa. Maka kita memutuskan untuk memesan tempat dulu daripada pulang dengan perut hampa. Benar saja, menjelang saat yang dinantikan, jalanan menuju ke Jl. Tambak macet abis. Jadi terpaksa kita berbuka di jalan. Untung salah satu personil berinisiatif untuk membeli minuman dan sedikit roti untuk mengganjal perut.
Do You Remember Ramones' End Of The Century?

Dalam kehidupan, ada saatnya kita merasa rancu antara berperilaku konsisten dan monoton. Menjadi pribadi yang konsisten tentu sesuatu yang terpuji, tapi kalau tidak berhati-hati bisa terjerumus menjadi monoton dan membosankan. Rileks guys, gue ga lagi mengambil lahannya Mario Teguh. Ini lagi ngomongin Ramones dan albumnya klasiknya, ‘End Of The Century’ yang diproduseri Phil Spector di tahun 1980.
Minggu, Agustus 30, 2009
District 9: Alien Juga Manusia
District 9, yang diproduseri oleh Peter Jackson (Lord of the Ring, King Kong) tampil berbeda dibandingkan film2 science fiction kebanyakan. Sutradara Neill Blomkamp mengambil suasana senatural mungkin layaknya film dokumenter. Sehingga film ini lebih mirip The Blair Witch Project daripada ID4.Alien2 ditampilkan dengan menjijikkan, rapuh, dan tak berbudaya. Tapi apakah berarti mereka jahat? Ternyata tidak. Dari luar memang menyeramkan, tapi para manusia terbukti lebih jahat. Alien2 itu ditampung dalam District 9, sebuah camp yang tidak layak, bahkan akan dipindahkan lagi ke District 10 yang lebih kumuh. Beberapa dari mereka dijadikan kelinci percobaan oleh para ilmuwan.
Minggu, Agustus 23, 2009
Java Rocking Land: Teror Rock yang Cadas
Selamat datang kembali di review yang super telat…ha…ha…ha! Maaf pembaca yang budiman, gue baru sempet nulis lagi setelah minggu2 kemaren ga punya energi karena atit. Ya, aku atit ladang tenggolokan…uhuk…uhuk...Bicara soal Java Rocking Land yang berlangsung pada 8, 9, 10 Agustus di Pantai Carnaval, Ancol, mau ga mau kita akan membandingkan dengan pergelaran Jakarta Rock Parade, tanggal 11-13 Juli 2008. Dua event ini kurang lebih berkonsep sama: menampilkan band2 rock lokal dan mancanegara dalam 3 hari. Bedanya apa? Penyelenggara dan sponsor. Ternyata 2 hal itu mampu membuat ketimpangan yang cukup jauh. Java Rocking Land yang digawangi Java Musikindo-yang khatam dengan Java Jazz dan ribuan konser lainnya- emang terlihat lebih matang dibandingkan penyelenggara Jakarta Rock Parade. Ditambah lagi, Gudang Garam sebagai sponsor utama Java Rocking Land cukup jor-joran dalam mendukung acara ini. Bayangkan, panggungnya aja ada 8, gimana ga puyeng? Blom lagi stand2 makanan, merchandise, lomba2, tempat foto, dll. Pokoknya Pantai Carnaval diset kayak Dufan versi Rock N Roll!
Jumat, Juli 10, 2009
Bite – Segar kembali dalam 1 gigitan
Alhamdulillah, akhirnya ada juga band Selasa, Mei 05, 2009
Mari Bu, Buku Iklannya...
Menyambung review Sex After Dugem dan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (tanggal 2 Mei kemaren, lewat dikit gpp ya?) mari kita membahas buku iklan lagi. Sebelumnya, penting ga sih baca buku iklan? Emang ga penting2 amat, jauh lebih penting baca blog ini...hahaha! Oke serius, deh. Mencontek kata2nya Luke Sullivan, lo lebih percaya mana, dibedah oleh dokter yang males baca atau dokter yang rajin meng-update dirinya dengan buku2 bedah & kedokteran? Nah...kurang lebih gitu deh sama iklan. Cuma bedanya, kalo di dunia iklan, nobody dies! Orang dengan modal sotoy bisa aja bikin iklan. Tapi bagaimana karyanya, apakah bercita rasa tinggi? Apakah bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa? Makanya, untuk menjadi ahli, kita harus rajin baca dan terus belajar. Jangan cepat puas, stay foolish, kata Steve Jobs.Selasa, April 21, 2009
Sex After Dugem, Anyone?

Buku ini lebih berhak menyandang judul "Confessions of an Advertising Man", daripada bukunya David Ogilvy. Ogilvy lebih banyak menulis seputar teknis membuat iklan, sementara Budiman Hakim bicara jujur soal kisah hidupnya yang penuh kesablengan. Benar kata Butet Kartaredjasa di Kata Pengantar, bila ada polisi yang ngebaca ini (terutama bab soal dia nyimeng), Budiman bisa ditangkep! Anyway, David Ogilvy udah duluan nulis bukunya, jadinya Budiman harus puas dengan "Sex After Dugem". Judul yang masih relevan dengan isinya yang menohok, jujur, ngga “pretentious” seperti tulisan gue ini :P.
Senin, April 13, 2009
The Upstairs - Magnet! Magnet! Kuatkah Daya Tariknya?

Untuk elo yang buru2 atau punya penyakit males baca, gue kasih jawaban singkat: nggak! Daya tarik album ini lemah sekali. Oke, silakan kalo mau buka Facebook lagi :)....buat yang hobi baca, lanjut yuu....
Untuk sound dan penguasaan instrumen di album ketiga ini, gue angkat jempol sama The Upstairs. Tapi songwriting? Wah, kayaknya mereka belum bisa mengalahkan diri mereka sendiri di album perdana, Matraman. Walaupun kualitas rekaman Matraman sedikit di bawah standar, tiap lagu punya "soul" yang cukup membuat orang - meminjam istilah Jimi Multhazam - berdansa resah.
Minggu, April 12, 2009
Jackie Chan Mengurangi Tendangan, Ganti Bersilat Lidah di Shinjuku Incident

Anda-andi yang pengen liat aksi akrobatik kungfu ala Jackie Chan, pasti akan kecewa dengan Shinjiku Incident. Film yang disutradarai Derek Yee ini lebih banyak memuat drama, porsi action hanya sepertiganya. Tapi, seperti halnya film2 mafia yang bagus, actionnya walau sedikit tapi sangat mencengangkan, karena adegannya benar2 dibutuhkan, bukan demi mengumbar darah doang.
Superman Is Dead - Angels and the Outsiders

“Angels and the Outsiders” adalah album terbaru dari grup punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID). Gue bukan penggemar berat SID, tapi entah kenapa sulit melawan hasrat untuk memiliki album ini. Jadi deh gue beli album originalnya, bukan nyari downlodan atau mp3 bajakan.
Kesan pertama adalah…wow! Cover album yang cantik sekali! Digarap seperti poster2 film tahun 1960an (atau malah 1920an? I don’t know, u do the research!). Pokoknya klasik banget (lihat inset). Gambar pria yang tampangnya seperti Jerinx sedang membawa kunci inggris sambil ngobrol ama seorang anak. Sementara di bagian bawah ada gambar personil SID bersepeda lowrider. Di bagian dalam, semakin kentara obsesi SID dengan sepeda lowrider. Ada foto personil SID lagi mejeng dengan sepeda lowridernya masing2. Btw, apa sih hubungannya punk dan lowrider? Eco-friendly? That’s so hippie…:)
Langganan:
Postingan (Atom)